Hidup Sehat

Bagaimana Cara Pengobatan dan Pencegahan Penyakit Infeksi Melioidosis?

Melioidosis disebabkan bakteri Burkholderia pseudomallei. Bakteri ini ditemukan di air dan tanah yang terkontaminasi. Kemudian berisiko menyebar ke manusia dan hewan yang terkontaminasi. Melioidosis disebut-sebut sebagai agen potensial senjata biologis dalam perang. Hal ini juga didukung oleh infeksi yang dapat terjadi hampir seluruh tubuh. Akan tetapi yang paling sering terjadi di paru-paru. Bahkan tingkat kematiannya mencapai 40%. 

Bagaimana mendiagnosis melioidosis?

Melioidosis menyerang hampir semua organ tubuh. Tanda dan gejalanya juga mirip dengan penyakit-penyakit lain sehingga disebut juga “the great imitator”. Oleh karena itu, diagnosis dilakukan seakurat mungkin sebab kesalahan diagnosis akan berakibat fatal. 

Metode diagnosis kultur bakteri Burkholderia pseudomallei merupakan tes standar emas untuk penykit ini. Metode ini dilakukan menggunakan sampel darah, dahak, nanah, cairan sinovial (diantara sendi), cairan peritoneal di rongga perut, atau cairan perikardial di dekitar jantung.  

Sampel diletakan di media tumbuh seperti agar. Cara ini digunakan untuk mengetahui pertumbuhan bakteri. Akan tetapi, metode kultur tidak selalu berhasil digunakan untuk menguji melioidosis. Saat pandemi melioidosis berlangsung, ahli juga mengambil sampel dari air dan tanah. 

Perawatan dan pengobatan melioidosis

Setelah pasien positif terjangkit melioidosis melalui serangkaian diagnosis yang telah dilakukan, dokter akan menentukan jenis pengobatan yang tepat. Jenis infeksi dan cara pengobatan akan berdampak pada hasil jangka panjang. Pengobatan umumnya dimulai dengan terapi antibiotik intravena atau melalui infus selama 10-14 hari. Kemudian diberikan obat antibiotik oral selama 3-6 bulan. 

Berdasarkan Center for Disease Control and Prevention, jenis obat antibiotik yang digunakan untuk menangani melioidosis diantaranya:

  1. Terapi intravena 
  • Ceftazidime diberikan setiap 6-8 jam, atau 
  • Meropenem siberikan setiap 8 jam
  1. Obat antimikroba oral
  • Trimethoprim-sulfamethoxazole dikonsumsi setiap 12 jam sekali, atau
  • Amoxicilin / asam clavunalat (co-amoxiclav) dikonsumsi setiap 8 jam sekali

Yang perlu diperhatikan yakni bagi pasien yang alergi terhadap penicillin sebaiknya berkonsultasi ke dokter terkait kondisinya sehingga dokter dapat memberikan alternatif pengobatan lainnya. Setelah pemberian antibiotik, maka kejadian kambuh tidak akan sesering dulu. Kejadian kambuh biasanya menjangkit pasien yang tidak menyelesaikan pengobatan antibiotik sesuai waktu yang ditentukan dokter. 

Cara pencegahan melioidosis

Belum ada vaksin untuk mencegah melioidosis dan saat ini masih terus dikembangkan. Tindakan pencegahan khususnya harus dilakukan untuk mereka yang tinggal atau yang pernah mengunjungi daerah dimana melioidosis sering terjadi. Berikut ini berbagai tindakan yang harus dilakukan:

  • Saat bekerja di tanah atau air, gunakan alas kaki dan sarung tangan anti air
  • Hindari kontak dengan tanah dan genangan air jika Anda memiliki luka terbuka, penyakit ginjal kronis atau diabetes
  • Hindari menghirup udara terbuka saat cuaca buruk
  • Petugas kesehatan sebaiknya memakai Alat Pelindung Diri (APD) lengkap
  • Petugas pemotong dan pengolah daging sebaiknya memakai sarung tagan dan mensterilkan pisau secara teratur
  • Jika mengonsumsi susu dan produk olahannya, pastikan telah dipasteurisasi
  • Lakukan skrining melioidosis apabila Anda akan mendapatkan terapi imunosupresif atau terapi yang menekan sistem imun tubuh

Faktanya, meskipun telah mendapatkan pengobatan antibiotik IV terbaru, sebagian besar pasien meninggal akibat melioidosis setiap tahunnya. Hal ini disebabkan sepsis dan komplikasi. Angka kematian lebih tinggi di daerah dengan akses medis terbatas. 

Apabila Anda pernah pergi ke daerah berisiko meiliodosis dan mengalami pneumonia atau syok septik setelahnya, segera periksakan diri ke dokter untuk dilakukan diagnosis.