Kehamilan

Hal Biasa, Jahitan Melahirkan Normal Diperlukan oleh Ibu Pasca Persalinan

Saat melahirkan normal, umumnya Anda juga memerlukan jahitaan. Ini merupakan hal biasa dan tidak perlu ditakuti. Biasanya jahitan melahirkan normal ini dibutuhkan saat ada robekan perineum ketika proses persalinan.

Jahitan Melahirkan Normal Diperlukan pada Kondisi Ini

Perlu diketahui bahwa sekitar 9 dari 10 wanita yang melahirkan normal membutuhkan jahitan. Hal ini jika area perineum mengalami robekan yang dalam dan harus dijahit. Perineum adalah area di antara vagina dan anus.

Biasanya, robekan lebih dalam ini dialami oleh wanita saat bersalin dengan kondisi berikut ini:

  • Pertama kali melahirkan melalui vagina
  • Proses persalinan dijalani dengan durasi yang lama
  • Bayi yang dilahirkan memiliki berat di atas rata-rata, biasanya di atas 4 kilogram
  • Persalinan dengan bantuan khusus, seperti dengan vakum misalnya
  • Bahu bayi tersangkut di tulang kemaluan ibu
  • Posisi kepala bayi di bawah, namun bagian belakang kepala dan punggung bersentuhan dengan tulang belakang ibu (posisi back-to-back)
  • Pernah mengalami robekan di perineum

Sehingga, ketika mengalami kondisi-kondisi di atas, dokter perlu menggunting perineum untuk mempermudah proses persalinan atau disebut proses episiotomi. Area yang digunting tersebut haruslah dijahit kembali. Prosedur menggunting ini umumnya dilakukan jika bayi harus segera lahir. Atau pada kondisi di mana ada risiko robekan di anus yang cukup dalam apabila perineum tidak segera digunting.

4 Tingkat Keparahan Robekan

Ada beberapa tingkatan derajat robekan atau ruptur perineum ini, yaitu:

  • Tingkat 1

Robekan tingkat 1 ini biasanya tidak perlu dijahit karena termasuk robekan ringan. Area yang robek ini adalah bagian kulit perineum atau mulut vagina.

  • Tingkat 2

Robekan tingkat 2 pada perineum ini sudah memasuki otot perineum yang berada di dalam vagina ibu. Biasanya jahitan melahirkan normal dibutuhkan jika robekan perineum cukup dalam yang sudah mencapai otot, atau sampai pada tingkat 2 ini.

  • Tingkat 3

Robekan tingkat 3 ini terjadi di kulit dan juga otot vagina, perineum, dan juga anus. Robekan ini harus dijahit di ruang operasi karena sudah tergolong parah. Biasanya robekan tingkat 3 ini bisa menyebabkan ibu mengalami komplikasi seperti nyeri ketika berhubungan seksual atau inkontinensia tinja.

  • Tingkat 4

Robekan perineum tingkat 4 ini adalah kondisi paling parah. Sebab, ruptur sudah mencapai ke bagian anus, rektum, hingga usus besar. Prose penjahitannya juga sudah harus dilakukan di ruangan operasi. Komplikasi yang ditimbulkan sama dengan tingkat 3 meskipun sudah dijahit. Komplikasinya bisa dirasakan hingga berbulan-bulan.

Cara Merawat Jahitan Melahirkan Normal

Bisa dibilang ibu yang melahirkan normal akan mendapatkan jahitan melahirkan normal. Agar proses pemulihan luka jahitan lebih cepat, perlu perawatan dengan baik juga. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan, yaitu:

  • Duduklah dengan perlahan dan gunakan bantal berbentuk donat sebagai penyangga tubuh saat ingin duduk
  • Kompres luka jahitan dengan batu es yang dibungkus dnegan kain. Hal ini untuk mengurangi rasa gatal dan nyeri
  • Hindari mengangkat beban berat atau mengejan setelah luka jahitan
  • Lakukan senam Kegel agar otot kuat dan membantu mempercepat penyembuhan jahitan melahirkan normal.
  • Selalu bersihkan luka jahitan setelah buang air kecil atau besar dan keringkan
  • Ganti pembalut secara teratur dan pastikan tangan bersih sebelum dan setelah menggantinya
  • Monsumsi makanan yang kaya serat dan perbanyak minum air putih agar tidak konstipasi.
Kehamilan

Waspadai Gejala Berbahaya pada Masa Nifas

Darah yang terus keluar pasca persalinan merupakan hal yang wajar. Pendarahan yang menyerupai menstruasi tersebut disebut dengan lokia dan umum dialami oleh ibu yang baru melahirkan sebagai bentuk pemulihan kondisi rahim atau lebih dikenal sebagai masa nifas.

Pemulihan rahim pada masa nifas terjadi karena selama kehamilan, dinding rahim pasti mengalami penebalan karena janin yang terus bertumbuh dan berkembang. Setelah janin keluar, dinding yang menebal tersebut akhirnya lurus dalam bentuk darah dan lendir.

Walaupun umumnya aman, Anda tetap mesti mewaspadai beberapa gejala masa nifas yang bisa membahayakan. Pasalnya, masa nifas dalam beberapa kondisi dapat menimbulkan beberapa komplikasi, seperti tekanan darah rendah secara drastis, penyakit kardiovaskular, sampai stroke. Untuk itu apabila Anda mengalami beberapa gejala berbahaya seperti di bawah ini, cobalah untuk segera berkonsultasi ke dokter.

  1. Gumpalan Besar

Anda patut waspada apabila selama masa nifas mengalami pendarahan yang disertai gumpalan besar. Pada beberapa kasus, gumpalan darah nifas bisa mecapai sebesar bola pingpong. Jika sudah sebesar itu, Anda mesti segera mengonsultasikannya ke dokter.

  • Pendarahan Tak Wajar

Ketika masa nifas, Anda akan cukup sering mengganti pembalut karena aliran darah yang cukup deras sehingga memenuhi pembalut hanya dalam 2—3. Di waktu tertentu seperti ketika menyusui dan saat bangun tidur, jumlah pendarahan yang mengalir bisa lebih banyak sedikit. Namun, berhati-hatilah apabila darah seger terus mengalir sehingga memenuhi pembalut kurang dari 1 jam. Artinya, Anda berada dalam kondisi pendarahan berat yang mesti segera ditangani.

  • Tidak Berdarah

Umumnya masa nifas akan berlansung dalam beberapa minggu. Pada masa-masa itu, darah akan terus keluar dari saluran kelahiran Anda. Jika pendarahan Anda terlalu cepat berhenti atau bahkan saluran kelahiran tidak mengeluarkan darah sama sekali semenjak proses persalinan, Anda mesti segera memeriksakannya ke dokter karena kondisi tersebut tidak wajar.

  • Demam Tinggi

Seharusnya pendarahan dalam masa nifas tidak memengaruhi suhu tubuh Anda, kecuali ada masalah infeksi. Karena itu, segeralah lakukan kontrol dengan dokter apabila selama nifas, Anda mengalami gejala demam tinggi di atas 38 derajat Celsius. Demam menunjukkan indikasi Anda sedang mendapat serangan virus ataupun bakteri.

  • Berbau Busuk

Darah nifas merupakan darah segar yang cenderung tidak menimbulkan bau kecuali amis. Jika Anda mencium bau lain pada lokia yang mengalir, Anda patut curiga. Kondisi bau busuk yang tercium sangat mungkin menandakan adanya infeksi pada rahim Anda atau bagian lain di saluran kelahiran.

  • Sakit Kepala Parah

Salah satu komplikasi yang kerap timbul selama masa nifas adalah kondisi tekanan darah rendah mendadak. Gejala yang turut mendampingi rendahnya tekanan darah adalah sakit kepala. Jika Anda tiba-tiba merasa sakit kepala parah ketika masa nifas, segera lakukan pengecekan tekanan darah. Jika didapati nilainya rendah di bawah rata-rata, Anda baiknya segera berkonsultasi ke dokter guna mendapat penanganan.

  • Mual dan Muntah

Mual dan muntah tidak umum dialami oleh ibu setelah masa persalinan. Mual dan muntah pada masa kehamilan memang menandakan kondisi janin ynag cukup sehat. Akan tetapi jika terjadi di masa nifas, artinya kondisi Anda sedang tidak sehat. Anda sangat mungkin sedang terseran virus atau bakteri ketika mengalami mual dan muntah di masa nifas.

***

Mewaspadai gejala masa nifas yang tidak wajar dapat menyelamatkannya Anda dari komplikasi penyakit kronis. Jadi, jangan ragu utuk sering melakukan kontrol dan bertanya ke dokter mengenai berbagai keanehan yang Anda alami setelah masa persalinan usai.

Kehamilan

Bukan Hanya Ukuran Perut Hamil, Ini Penanda Janin Sehat

Perut yang membesar menjadi salah satu penanda kehamilan yang sarat mata, apalagi jika kehamilan Anda sudah menyentuh trimester kedua atau tepatnya di atas 5 bulan. Ukuran perut hamil yang semakin besar dinilai sebagai suatu tanda bahwa janin yang ada di kandungan dalam keadaan sehat dan baik.

Ukuran perut hamil yang membesar memang bisa menjadi salah satu indikator bahwa perkembangan janin baik di dalam kandungan alias tumbuh ideal. Namun yang harus dipahami, penanda bahwa janin sehat bukan hanya ukuran perut. Banyak indikator lain yang menandakan janin Anda dalam keadaan sehat selain melihat ukuran perut hamil.

Jadi buat Anda yang merasa ukuran perut semasa kehamilan terlalu kecil, jangan khawatir berlebihan. Coba cek indikator lain untuk melihat kesehatan lain seperti di bawah ini.

  1. Gerakan Janin

Selama janin Anda masih bergerak aktif, tandanya calon anak Anda dalam keadaan sehat-sehat saja. Pergerakan janin sendiri minim dipengaruhi oleh ukuran perut hamil. Pada masa-masa awal kehamilan memang sulit merasakan gerak janin. Anda bisa mulai menyadari gerakan janin umumnya pada awal bulan kelima atau sekitar usia kandungan 20 minggu.

Pada mulanya, gerakan janin hanya menyerupai kedutan. Seiring bertambahnya usia kandungan, gerakan janin akan lebih beragam. Pada bulan keenam, Anda akan sering merasa gerakan janin yan menyentak di mana umumnya gerakan tersebut merupakan bentuk cegukan janin untuk melatih pernapasannya. Lalu pada bulan ketujuh dan kedelapan, janin akan aktif menendang dan berputar di perut Anda. Gerakan janin baru akan berkurang pada bulan kesembilan karena makin besarnya ukuran calon bayi tersebut sehingga ruang geraknya dalam perut semakin terbatas.

  • Janin Terus Bertumbuh

Zaman sekarang sangat mudah untuk melihat perkembangan pertumbuhan janin dalam perut. Soalnya, tiap ibu yang tengah mengandung bisa mengecek pertumbuhan calon anaknya lewat USG yang umum dilakukan tiap kali kontrol bulanan. Melihat kesehatan janin lewat pertumbuhannya yang tertampil di hasil USG jauh lebih tepat dibandingkan hanya memperkirakan kesehatan janin lewat ukuran perut hamil.

Umumnya pertumbuhan janin akan lebih terlihat ketika usia kandungan memasuki 20 minggu. Pada saat itu, panjang janin umumnya sudah mencapai 25 sentimeteter. Tiap bulannya, pertumbuhan panjang janin idealnya mencapai 5 sentimeter sehingga nantinya pada usia kandungan 36 minggu, panjang janin diperkirakan bisa mencapai 50 sentimeter.

  • Detak Jantung Janin

Bagaimana jika Anda ingin mengetahui kesehatan janin pada usia kandungan di bawah 20 minggu? Pada saat itu, ukuran perut hamil ataupun pergerakan janin pun tidak bisa dijadikan indikator kesehatan si jabang bayi. Jawabannya, Anda bisa mengukur kesehatan janin dengan memperhatikan detak jantung janin.

Jantung janin sudah mulai berdetak sejak usia kandungan berusia 6 minggu. Hanya saja memang tidak semua orang bisa menyadari detak jantung janin di dalam perut mereka. Anda bisa menggunakan bantuan fetal doppler atau alat ukuran jantung janin. Janin yang sehat umumnya memiliki detak jantung antara 120—170 kali per menit.

  • Mual dan Muntah

Trimester pertama kehamilan merupakan masa-masa adaptasi yang sulit bagi sebagian ibu. Pasalnya, gejala mual dan muntah kerap menghantui masa-masa kehamilan muda tersebut. Namun sebenarnya, berbahagialah Anda jika kerap mengalami mual dan muntah pada awal kehamilan. Hal tersebut menandakan janin berada dalam kondisi baik-baik saja.

Kondisi ibu hamil yang cenderung mengalami mual muntah dikarenakan naiknya hormon progesteron hingga 20 kali lipat pada awal-awal kehamilan. Rata-rata kadar progesteron pada wanita sehat sebanyak 20 miligram. Namun pada saat hamil, tubuh Anda bisa memproduksi hingga 40 miligram progresteron. Tingginya hormon ini berfungsi untuk mencegah pendarahan yang bisa berakibat pada kematian janin.

Semakin ibu hamil khawatir dengan kondisi kesehatan sebenarnya menjadi kurang baik bagi perkembangan janin. Jadi mulai sekarang jika Anda merasa ukuran perut hamil terlalu kecil dan kerap dikomentari orang, biarkan saja selama indikator kesehatan janin lainnya mendukung artinya calon anak Anda dalam kondisi baik-baik saja.