Parenting

Yuk Mulai Sekarang Cegah Kecanduan Gadget pada Anak agar Tumbuh Kembang Maksimal

Tahukah Anda bahwa anak sudah mulai dikenalkan pada gadget ketika baru memasuki usia 11 bulan atau kurang dari setahun? Data tersebut didasarkan pada hasil penelitian dari Pusat Medis Anak Cohen di New York yang mengambil sampel dari 65 keluarga. Disebutkan pula bahwa 97% responden memiliki perangkat digital layar sentuh. Tidak heran, jika dalam proses tumbuh kembangnya, banyak anak mengalami perilaku kecanduan gadget.

Craig Anderson, PhD, yang merupakan seorang profesor psikologi di Iowa State University mengatakan bahwa layer gadget dapat memberikan efek berbahaya untuk anak yang baru lahir, remaja, dan orang dewasa. Masalah yang mungkin akan dialami, antara lain terganggunya daya fokus ketika di sekolah, kualitas tidur yang buruk, kelebihan berat badan, gangguan pada penglihatan, hingga kurangnya interaksi sosial.

Program khusus untuk atasi kecanduan gadget pada anak

The Bozes Foundation adalah salah satu yayasan yang menginisiasi program khusus untuk mengatasi kecanduan gadget pada anak. Yayasan tersebut didirikan oleh pemilik Amazon, Jeff Bezos. Sebuah program yang disebut Vroom menyediakan pelajaran singkat yang dapat membantu orang tua untuk membangun interaksi dengan buah hatinya. Program ini dilengkapi dengan beberapa kegiatan yang dapat merangsang aktivitas otak usia dini dengan memaksimalkan kegiatan sehari-hari, seperti berkomunikasi ketika waktu sarapan.

Tips membatasi penggunaan gadget pada anak

Beberapa tips di bawah ini dapat Anda lakukan untuk membatasi penggunaan gadget pada anak.

  1. Batasi waktu penggunaan gadget

Membatasi waktu penggunaan gadget pada anak merupakan hal sederhana, namun membutuhkan ketegasan. Anak perlu untuk diajari bagaimana menggunakan waktu, seperti mengetahui waktu spesifik untuk mematikan gadget atau menghentikan penggunaannya.

  1. Berikan contoh yang baik pada anak

Anak pada dasarnya akan meniru segala tindakan dan perilaku yang dilakukan oleh orang tua. Penting bagi Anda untuk dapat disiplin dalam menggunakan gadget. Sebelum Anda memarahi anak karena terlalu sering bermain dengan gadget, refleksikan terlebih dahulu perilaku Anda, apakah Anda pernah menggunakan gadget secara intens ketika anak-anak berada di sekitar Anda? Banyak riset yang menunjukkan bahwa orang tua lebih fokus pada gadget mereka dibanding membangun komunikasi dengan anak.

  1. Bantu anak menemukan hobi

Anak akan cenderung memiliki perilaku kecanduan gadget jika ia tidak memiliki ketertarikan pada kegiatan lainnya. Maka dari itu, penting bagi Anda untuk membantu anak menemukan hobi atau setidaknya kegiatan lain yang ia senangi, seperti bersepeda, membaca, menggambar, atau kegiatan lain yang mendorong kreativitas anak.

Parenting

Problem Solving Dapat Menghindari Anda dari Bullying di Sekolah

Problem solving merupakan metode yang berawal dari penelitian Borba pada pelaku bullying di sekolah. Ternyata, kata dia, sebagian besar dari mereka punya masalah pribadi dan mereka tak tahu cara memecahkannya. Merundung orang lain menjadi salah satu cara pelaku untuk melampiaskan kekesalan yang dia alami.

Menurut Borba, penelitian selama tiga puluh menghasilkan solusi bahwa perilaku penindasan dapat dikurangi dengan upaya sistematis, berkelanjutan, dan berbasis ilmiah. Dia menekankan pentingnya anak-anak untuk belajar bekerja sama untuk menyelesaikan masalah mereka. “Keterampilan memecahkan masalah adalah salah satu cara terbaik untuk membantu anak-anak dan remaja mengekang potensi pertengkaran, mengelola konflik, memunculkan empati sekaligus mengurangi peluang tindakan kekerasan,” kata dia

Pendapat Borba sejalan dengan hasil analisa American Psychological Association. Riset terhadap 153 kasus intimidasi menemukan fakta bahwa anak-anak, terutama laki-laki, yang kesulitan dalam memecahkan masalah berisiko menjadi pelaku intimidasi, target, atau keduanya. Pelaku atau objek bullying juga kurang memiliki keterampilan sosial dan kerap berpikir negatif.

“Seorang pengganggu biasanya sulit menyelesaikan masalah dengan orang lain dan juga memiliki masalah akademis,” kata peneliti utama American Psychological Association, Clayton R. Cook. “Demikian juga dengan korban yang cenderung agresif, kurang keterampilan sosial, berpikir negatif, dan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah sosial.”

Perundungan atau bullying pada anak menjadi momok para orang tua. Tindakan kekerasan ini seolah tak terhindarkan meski anak berada di tempat yang seharusnya aman, seperti sekolah atau tempat bermain yang diawasi orang tua. Oleh karena itu, ajarilah anak untuk menghindari bullying di sekolah.

Karena itu, untuk menghindarkan anak dari perilaku bully, ada beberapa pendekatan.

  1. Beri kesempatan untuk memecahkan masalah mereka sendiri. Amati cara mereka menyelesaikan konflik atau memecahkan masalah. Namun jika ada gejala kekerasan segera turun tangan untuk membantu menyelesaikannya.
  2. Ajarkan langkah-langkah pemecahan masalah. Sebagai orang dewasa, orang tua pasti punya metode masing-masing untuk memecahkan aneka masalah. Metode ini yang sebaiknya ditularkan pada anak-anak. Biasakan mereka berpikir matang dan bertindak hati-hati untuk meminimalisir dampak buruk.
  3. Adil dalam menyelesaikan konflik. Coba untuk adil pada pelaku dan korban, yang sama-sama berusia belia. Dalam hal ini, nasihat lebih baik ketimbang hukuman. 
  4. Biasakan dialog untuk memecahkan masalah.