Parenting

Wahai Orang Tua, Waspadai Ciri-Ciri Anak Psikopat

Terkadang, orang tua mencurigai anak mereka psikopat jika melihat sang anak tak punya rasa empati sama sekali. Hal ini seringkali membuat orang tua ketakutan dan menganggap itu sebagai ciri-ciri anak psikopat.

Akan tetapi, apakah Anda yakin bahwa kecurigaan Anda benar adanya? Bisa saja, anak Anda sebenarnya bukan psikopat. Untuk mengetahui hal ini, Anda perlu terlebih dahulu memahami seperti apa tanda-tanda anak yang psikopat. 

Apa saja ciri-ciri anak psikopat?

Ciri-ciri anak psikopat sebenarnya sudah bisa dideteksi sejak dini, bahkan dari sebelum anak menginjak usia dua tahun. Sebagai orang tua, Anda bisa memperhatikan apabila anak Anda memiliki kesadaran dan empati yang berbeda dari anak lainnya.

Pada anak-anak usia 2-4 tahun, tanda yang perlu Anda perhatikan sebagai ciri-ciri psikopat antara lain:

  • Anak sangat egois dan tidak mau berbagi
  • Anak terus menerus berbohong
  • Anak mendekati Anda dengan cara yang licik
  • Anak tidak merasa bersalah setelah berperilaku buruk dan melakukan kesalahan
  • Anak tidak berubah meski sudah mendapatkan hukuman

Itu adalah ciri-ciri pada anak usia dini. Seiring bertambahnya usia, ciri-ciri ini bisa semakin berkembang dan semakin bisa Anda rasakan.

Apabila di usia balita anak sudah banyak menunjukkan tanda-tanda ini, maka setelah melewati usia 9 tahun, mereka semakin berpotensi untuk mengembangkan sikap ini. Ini bukanlah pertanda yang baik, karena anak Anda bisa saja berisiko menjadi psikopat.

Tanda-tanda psikopat pada anak sebenarnya tidak jauh berbeda dengan tanda psikopat pada orang dewasa. Hanya saja, sebagai orang tua, Anda bisa lebih mengamati tanda pada anak Anda sendiri.

Secara garis besar, tanda khusus dari gejala psikopat pada anak adalah mengabaikan perasaan orang lain dan tidak pernah memiliki rasa penyesalan. 

Menemukan ciri-ciri psikopat pada anak, bahaya atau tidak?

Banyak orang memiliki persepsi yang salah mengenai psikopat. Kebanyakan orang beranggapan bahwa anak yang psikopat adalah anak yang bisa  menjadi pembunuh berdarah dingin di masa depan.

Pandangan seperti ini terbentuk karena sebagian besar tokoh antagonis dalam film tentang kriminalitas memiliki karakteristik psikopat. Padahal, psikopat sebenarnya tidak hanya sebatas itu saja. 

Memang, ketika Anda menemukan ciri-ciri anak psikopat, maka ada peluang bahwa perilaku anak Anda akan menjadi berbahaya. Hanya saja, dengan perawatan dan penanganan yang tepat, hal ini bisa diatasi.

Kenyataannya, psikopat tidak selalu menjadi orang yang jahat, atau bahkan pembunuh. Dalam realita, ada banyak pengusaha sukses yang pernah didiagnosa sebagai psikopat di masa kecilnya.

Bahkan, menurut penelitian, 3 persen dari para pemimpin bisnis di dunia adalah psikopat. 

Potensi anak psikopat untuk berubah

Sebagai orang tua, wajar jika Anda merasa khawatir melihat ciri-ciri psikopat pada anak Anda. Namun, Anda tidak perlu khawatir, karena hal ini sebenarnya bisa diatasi dan diubah.

Pengobatan untuk anak psikopat melibatkan pengobatan medis dari ahli kesehatan mental, serta dukungan dari keluarga. Anda perlu mengubah sikap dan cara Anda untuk berkomunikasi dengan anak Anda.

Jika Anda mencurigai adanya tanda-tanda psikopat pada anak Anda, Anda bisa melakukan konsultasi dengan dokter spesialis anak dan psikolog. Mereka akan membantu anak Anda dan memberikan arahan mengenai hal-hal yang harus Anda lakukan sebagai orang tua. 

Jangan khawatir bila melihat ciri-ciri anak psikopat pada anak Anda. Anak yang psikopat tetap bisa dihadapi dan diatasi dengan baik.

Parenting

Penyebab Konjungtivitis: Perlu Diwaspadai

Konjungtivitis, atau mata merah, merupakan peradangan yang terjadi pada konjungtiva (membran transparan yang menutupi bagian putih bola mata). Penyebab konjungtivitis beragam sehingga perlu diwaspadai.

Gejala

Seseorang yang mengalami konjungtivitis akan menunjukkan gejala berupa kemerahan, gatal, dan kotoran pada mata. Jika Anda mengalami kondisi seperti ini, Anda sebaiknya temui dokter supaya kondisi Anda dapat ditangani lebih lanjut.

Penyebab

Penyebab konjungtivitis adalah sebagai berikut:

  1. Alergi

Konjungtivitis bisa terjadi karena seseorang mengalami reaksi alergi terhadap alergen seperti serbuk sari. Jika manusia terpapar alergen, tubuh akan melepas respons alergen dengan melepas antibodi bernama imunoglobulin E (IgE). Antibodi tersebut merangsang sel mast pada mata dan saluran pernafasan untuk melepas senyawa seperti histamin. Histamin yang dilepaskan akan memicu berbagai reaksi alergi, termasuk mata merah.

  1. Iritasi

Iritasi karena berbagai faktor seperti zat kimia juga dapat memicu konjungtivitis. Contoh zat yang dapat memicu alergi pada mata adalah klorin (zat yang digunakan di kolam renang).

  1. Infeksi bakteri

Ada berbagai jenis bakteri yang dapat memicu konjungtivitis. Contoh bakteri yang menyebabkan kondisi tersebut adalah Staphylococcus aureus. Bakteri penyebab konjungtivitis lebih berisiko pada anak-anak dibandingkan dengan orang dewasa. Bakteri tersebut juga dapat menular dengan mudah.

  1. Infeksi virus

Konjungtivitis juga disebabkan oleh virus. Ada berbagai virus yang dapat menyebabkan kondisi tersebut, salah satunya termasuk virus herpes simplex. Virus penyebab konjungtivitis juga mudah menular sehingga dapat menimbulkan wabah.

  1. Penyebab lain

Ada beberapa penyebab lain yang dapat memicu konjungtivitis, salah satunya termasuk kontak lensa.

Bertemu Dengan Dokter

Jika Anda mengalami konjungtivitis, Anda sebaiknya temui dokter. Sebelum bertemu dengan dokter, Anda dapat mempersiapkan diri dengan beberapa hal sebagai berikut:

  • Daftar pertanyaan yang ingin Anda ajukan ke dokter.
  • Daftar gejala yang Anda alami akibat konjungtivitis.
  • Daftar riwayat medis (jika diperlukan).

Ketika Anda bertemu dengan dokter, dokter akan menanyakan kondisi Anda seperti:

  • Kapan gejala tersebut terjadi?
  • Apakah kondisi yang Anda alami memburuk?
  • Apakah Anda memiliki penyakit tertentu?

Diagnosis

Setelah mengetahui kondisi Anda, dokter akan melakukan diagnosis yang meliputi:

  1. Pemeriksaan fisik

Dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik terhadap mata Anda untuk mengetahui apakah kondisinya parah atau tidak.

  1. Pengambilan sampel

Setelah mengetahui kondisi mata, dokter dapat mengambil sampel air mata konjungtivitis untuk diteliti lebih lanjut di laboratorium. Pengambilan sampel dilakukan untuk mengetahui apa yang menyebabkan Anda mengalami konjungtivitis.

Pengobatan

Dokter dapat memberikan pengobatan terhadap pasien yang mengalami konjungtivitis berdasarkan penyebabnya. Berikut adalah pilihan pengobatan yang dapat dilakukan dokter:

  • Bakteri

Jika konjungtivitis disebabkan oleh bakteri, maka obat yang digunakan adalah obat antibiotik. Ada dua obat antibiotik yang dapat digunakan, antara lain antibiotik tetes (untuk orang dewasa) dan salep antibiotik (untuk anak-anak).

  • Virus

Jika konjungtivitis disebabkan oleh virus, maka Anda bisa menggunakan kompres hangat, atau Anda bisa tidak menggunakan obat apapun karena gejalanya akan hilang sendiri.

  • Alergi

Jika konjungtivitis disebabkan oleh alergi, maka obat yang digunakan adalah obat antihistamin.

Pencegahan

Untuk mencegah konjungtivitis, berikut adalah beberapa cara yang dapat Anda lakukan:

  • Rajin mencuci tangan.
  • Jangan menggunakan kontak lensa.
  • Jangan berbagi pakaian dengan teman atau keluarga untuk mencegah penularan.
  • Pilih produk kosmetik yang tidak menimbulkan gangguan pada mata.

Kesimpulan

Penyebab konjungtivitis beragam dan perlu diwaspadai. Kondisi tersebut dapat menimbulkan berbagai gejala, namun dapat diobati dengan beberapa cara berdasarkan penyebabnya. Cara-cara untuk mencegah konjungtivitis sederhana. Untuk informasi lebih lanjut tentang konjungtivitis, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter.

Parenting

Begini Gaya Pacaran dari Anak Bungsu

Dalam menjalin sebuah hubungan terdapat banyak faktor yang bisa menjadi pendukung kecocokan, salah satunya muncul dari pembentukkan karakter seseorang dari dalam kedudukan di keluarga. Salah satunya adalah karakter anak bungsu bisa menjadi tolok ukur bagaimana seseorang mendapatkan hubungan yang ideal dengan lawan jenis.

Hal ini tak lepas dari pernyataan yang menyebutkan bahwa hubungan anak sulung dan anak bungsu adalah pasangan yang ideal. Tak sedikit yang mempercayai pernyataan tersebut, bahwa ketika anak sulung dan anak bungsu menjalin hubungan seperti pacaran atau bahkan menikah maka akan terhindari jauh dari pertengkaran.

Karakter Anak Bungsu

Kerap dicap manja dan selalu mendapatkan apa yang diinginkan, merupakan kesan pertama yang dilihat dari anak terakhir atau bungsu. Namun demikian, ternyata menjadi anak terakhir merupakan anugerah tersendiri dengan banyak manfaat dan pembelajaran yang bisa didapat, seperti berikut ini.

  1. Berani Lakukan Hal Gila

Anak bungsu punya kebiasaan nekat dan luwes, jika tiba-tiba sang pacar mengajak pergi ke pantai untuk melihat pemandangan tanpa terlalu banyak pikir akan segera mengemasi barang. Mereka juga bukan tipe orang yang sangat mementingkan citra diri, sehingga tak segan ketika diajak untuk berfoto bersama pacar ditengah keramaian.

  1. Suka Belajar

Anak bungsu suka belajar kesalahan dari orang lain, seperti ketika melihat kegagalan dari kakak-kakak mereka. Orang ini pandai membaca situasi atas keadaan yang tengah dialami, sehingga mereka dapat membenahi diri. Termasuk belajar dari sang kekasih, begitu juga sebaliknya karena mereka bisa menciptakan suasana yang kondusif.

  1. Berusaha Dapatkan Apa yang Diinginkan

Terkesan negatif, tetapi sifat ini justru bisa membawa berkah bagi anak bungsu dan kekasih mereka, kebiasaan ini membuatnya menjadi orang yang setia, mau berjuang, mau susah hingga pantang menyerah. Anak bungsubakal mengusahakan yang terbaik bagi hubungan asmaranya karena benar-benar menjaga cintanya.

  1. Ingin Dihormati dan Dihargai

Sebagai anak terakhir, si bungsi kerap diperlakukan seperti anak kecil meskipun sudah beranjak besar dan dewasa. Hal ini membuat mereka merasa ingin diperlakukan dengan baik dan dihormati layaknya orang dewasa. Soal urusan pacar, si bungsu pasti akan mencari sosok yang mau menerima mereka akan keinginan ini.

  1. Pengamat yang Baik

Sedari kecil anak bungsu sudah terbiasa melihat orang-orang yang lebih tua darinya menjalani hidup dan menasihatinya. Mereka tumbuh sebagai orang yang pandai mengamati dan membaca sikap orang lain, mereka bisa menjadi tempat mengeluarkan keluh kesah yang baik. Termasuk pacar, keluh kesah dari sang kekasih dapat ditampung dengan baik.

  1. Tak Bisa Marah Lama

Hal ini menjadi keutamaan yang luar biasa bagi anak bungsu ketika menjalin hubungan asmara, kekasih mereka tak dapat meluapkan rasa marah dalam jangka waktu yang cukup lama. Jika si bungsu melakukan kesalahan dan membuat pacar mereka marah, dalam waktu singkat si pacar akan segera memaafkannya.

  1. Bisa Diandalkan

Anak bungsu bisa dikatakan beruntung karena mereka punya kesempatan melihat kegagalan dan kesuksesan kakak mereka dan bagaimana cara menghadapinya. Dalam hidup, setiap masalah, perkara dan kekecewaan sudah biasa, mereka akan bersikap tenang dan tetap rasional saat mencoba menghadapi permasalahan yang ada.

  1. Bahaya Bila Tak Diperhatikan

Ini merupakan ciri khas dari karakter anak bungsu yang memang sulit untuk dipungkiri, karena biasanya kakak-kakak mereka adalah tipe orang yang sukses dan patut dibanggakan. Anak bungsu akan mencari perhatian orang tua dengan cara yang lain, bisa dengan merajuk, marah, mengajak bertengkar atau yang lainnya dan hal ini juga berlaku terhadap sang pacar.

Parenting

Bagaimana Cara Kerja Operant Conditioning? Ini Penjelasannya

Bagaimana Cara Kerja Operant Conditioning? Ini Penjelasannya

Merupakan sebuah metode pembelajaran yang cara pelaksanaannya dilakukan dengan memberi hadiah atau reward dan hukuman atau punishment sebagai konsekuensi dari perilaku disebut operant conditioning. Teori pembelajaran ini dikembangkan oleh B.F Skinner dan tak jarang banyak orang menyebut metode pembelajaran ini sebagai teori skinner atau instrumental conditioning.

Metode pembelajaran ini dapat dipraktikan dalam banyak aspek di dalam kehidupan sehari-hari anak, khususnya ketika menjalani kegiatan belajar di kelas. Dengan menggunakan cara ini, diklaim banyak anak yang mampu belajar perilaku baik dan positif hingga mereka terbiasa melakukan hal tersebut dalam aktivitas sehari-hari.

Cara Kerja Operant Conditioning

Metode pembelajaran ini memaksa seseorang atau anak mempelajari keadaan dari situasi yang memberinya hadiah atau hukuman. Karena memang metode ini dibuat agar anak mengerti hubungan yang muncul antara perilaku dan konsekuensi. Dalam dunia penelitian, konsep ini bisa terlihat pada tikus-tikus percobaan.

Tikus yang ditempatkan dalam sebuah kandang menggunakan dua buah lampu, masing-masing berwarna hijau dan merah. Kemudian di samping lampu terdapat sebuah tuas, jika menggerakan tuas saat lampu hijau menyala maka tikus akan mendapatkan makanan. Namun, jika memindahkan tuas saat lampu merah menyala, tikus akan mendapat setrum ringan.

Perilaku ini jika lama-lama dilakukan dan menjadi kebiasaan, maka tikus akan belajar bahwa tuas hanya akan ditarik ketika lampu hijau menyala dan mengabaikan tuas ketika lampu merah menyala. Kondisi tersebut menandakan bahwa tikus sudah berhasil menghubungkan antara perilaku dan konsekuensi melalui hadiah dan hukuman yang diterima.

Jenis Perilaku Menurut Skinner

Terdapat dua jenis kelompok perilaku manusia, yakni responden dan perilaku operant di mana masing-masing perilaku ini sangat berhubungan dengan teori pembelajaran yang dibuatnya ini, berikut penjelasan singkat mengenai beberapa kelompok besar perilaku manusia tersebut.

  • Perilaku Responden

Disebut juga dengan respondent behaviour, merupakan perilaku yang muncul secara otomatis dan refleks. Misalnya menjauhkan tangan saat tidak sengaja menyentuh benda panas atau menggerakan kaki ketika dokter mengetuk lutut. Perilaku ini muncul tanpa harus dipelajari dan dikuasai oleh manusia karena muncul dengan sendirinya.

  • Perilaku Operant

Perilaku operant atau operant behaviour adalah perilaku yang dipelajari dan akan keluar, baik itu secara sengaja maupun tidak sengaja ketika muncul suatu kejadian yang berhubungan dengan itu. Perilaku ini bisa dibentuk melalui metode pembelajaran di atas, seseorang bisa melatih diri sendiri maupun orang lain untuk melakukan hal-hal yang dianggap baik.

Komponen Pengondisian Instrumental

  • Reinforcement

Merupakan segala hal yang terjadi dan dapat menguatkan suatu perilaku, komponen ini bisa bersifat positif dan negatif. Positif  seperti sesuatu yang menghasilkan atau menguatkan perilaku positif, contohnya bekerja dengan baik di kantor dan perusahaan akan memberi bonus. Negatif adalah suatu hal yang dilakukan untuk menghentikan perilaku negatif yang dihadapi.

Misalnya seperti membuat seseorang berpikir bahwa dengan memberikan jajan kepada anak, maka akan ada sebuah konsekuensi anak tersebut akan menjadi tenang. Meski demikian, perilaku tersebut bukanlah salah satu tindakan positif karena membuat seseorang memaksanya untuk memberi anak jajanan ketika rewel atau menangis.

  • Punishment

Hukuman juga terbagi menjadi dua bagian, positif dan negatif dalam pengertian kebalikan dari reinforcement. Punishment positif merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk mengurangi terjadinya perilaku yang melemahkan respons, contoh menghukum anak dengan memukul tubuh mereka.

Sementara itu punishment negatif dalam operant conditioning dikenal juga dengan sebutan punishment by removal. Merupakan tindakan yang dilakukan dengan menyingkirkan benda atau apa saja yang memicu perilaku negatif, seperti melarang anak bermain gadget dan merampasnya jika berperilaku buruk di depan umum.

Parenting

Strategi Pengasuhan untuk Hadapi Anak Aktif Bergerak

Strategi Pengasuhan untuk Hadapi Anak Aktif Bergerak

Di usia 5 tahun pertama, anak sudah mulai menunjukkan warnanya masing-masing. Sebagian anak aktif bergerak, namun ada juga anak yang pendiam. Saking aktifnya, terkadang orang tua menjadi cemas apakah hal tersebut normal atau patut diwaspadai.

Anda mungkin berpikir anak yang terlalu lincah dan berenergi terkena ADHD. Hal itu memang bisa saja terjadi, namun tidak semua anak hiperaktif terkena gangguan tersebut.  

Penyebab anak menjadi hiperaktif

Ada perbedaan signifikan antara anak ADHD dengan anak yang hanya aktif bergerak. Menurut DSM V, ADHD memiliki gejala antara lain:

  • Cenderung memotong pembicaraan orang lain
  • Sulit fokus terhadap suatu hal 
  • Sulit duduk diam dan terus aktif bergerak
  • Melakukan kegiatan seperti berlari atau melompat di waktu yang tidak tepat
  • Senang berbicara tanpa henti

Jika Anda menemui beberapa gejala tersebut pada anak Anda, konsultasikan ke psikolog untuk memastikan apakah anak Anda benar-benar terkena ADHD.

Di sisi lain, ada beberapa sebab anak non-ADHD menjadi terlalu lincah dan aktif, diantaranya:

  • Stres
  • Kurang tidur
  • Merasa kurang bergerak sehingga terus bergerak tanpa henti
  • Efek dari kondisi kesehatan tertentu
  • Mengalami masalah mental atau emosi seperti gangguan kecemasan atau melalui peristiwa traumatis

Mengasuh anak yang terlalu aktif bergerak

Sudah sepatutnya anak aktif bergerak. Hal ini membuat banyak orang tua kewalahan dalam mengasuhnya. Ada beberapa strategi mengasuh anak lincah bergerak dan mendukungnya menjadi pribadi yang positif. 

  1. Ubah pikiran terhadap anak

Memberikan label kepada anak membuat Anda percaya bahwa anak Anda memang demikian. Labeling seperti itu juga dapat mempengaruhi keyakinan anak atas diri mereka sendiri. 

Misalnya, Anda melabeli anak Anda sebagai anak yang nakal. Jika hal itu sampai terdengar oleh anak, mereka akan percaya bahwa mereka memang nakal.

Ubahlah pikiran dan julukan yang Anda berikan kepada anak. Mulailah menggantinya dengan kalimat positif seperti anak Anda adalah anugerah bagi Anda, anak Anda memang suka berpetualang, dan kalimat baik lainnya.

  1. Terima kondisi anak

Sadari bahwa setiap anak istimewa dan memiliki karakternya masing-masing. Tidak ada yang salah dengan anak yang terlalu aktif bergerak. Seringkali anak mengekspresikan emosinya dengan berperilaku terlalu aktif. 

Rangkullah anak dan percayalah bahwa hal-hal yang mereka lakukan murni untuk bereksplorasi, bukan untuk menyakiti Anda. 

  1. Pahami energi dan motivasi anak

Anak dengan energi ekstra terkadang menyamarkan rasa frustasinya. Anak juga mungkin merasa bosan dan ingin bermain di luar ruangan. 

Jika Anda melihat anak terlalu lincah dibanding hari biasanya, carilah penyebabnya dan arahkan ke kegiatan yang positif. Ada banyak aktivitas fisik yang cocok untuk anak aktif bergerak, seperti bermain bola, bermain tanah liat, atau balet.

  1. Ajarkan anak keterampilan menenangkan diri

Untuk mengeluarkan rasa frustasi dan stres yang dialami, Anda bisa mengarahkan anak ke aktivitas yang berguna untuk menenangkan diri. Kegiatan ini bisa berupa bermain squishy, slime, dan latihan pernapasan. 

  1. Ajari anak keterampilan sosial emosional

Mengajari anak untuk mengekspresikan perasaannya adalah hal yang penting. Hal ini berguna melatih anak mengenali dirinya sendiri. Dengan begini anak tidak akan kesulitan menjalin hubungan pertemanan yang luas.

  1. Tetapkan batasan yang jelas 

Ketika meminta tolong atau memberi perintah ke anak, lakukanlah kontak sedekat mungkin dan ucapkan dengan tenang dan jelas. Ketika anak sudah fokus, mintalah mengulangi perkataan Anda untuk menghindari kesalah pahaman.

Jangan berteriak ketika anak melakukan tugasnya dan minta mereka menghubungi Anda ketika selesai.

  1. Berikan anak pujian 

Puji anak setelah menyelesaikan tugasnya. Tak harus pujian setinggi langit, cukup berikan apresiasi seperti mengucapkan terima kasih. 

  1. Perbanyak interaksi positif dengan anak

Untuk membangun kelekatan emosional, perbanyaklah melakukan kegiatan bersama-sama. Anda bisa menjadi teman bermainnya, dan membacakannya buku cerita sebelum tidur.

Kontak fisik seperti pelukan sebelum tidur juga dapat berdampak besar.

  1. Lakukan me-time untuk mengistirahatkan diri sendiri

Setelah lelah mengurus anak, jangan lupa sisihkan waktu sendiri untuk beristirahat. Hal ini sangat penting guna mengisi kembali energi Anda dan melepaskan stres.

Jika cara di atas tetap membuat Anda kesulitan mendidik anak aktif bergerak, mintalah bantuan konselor keluarga untuk panduan pengasuhan tambahan. Hal penting yang harus Anda ingat adalah bahwa semua anak istimewa.

Parenting

Benarkah Diare saat Hamil Sebabkan Keguguran?

Adanya perubahan hormon, perubahan pola makan, dan stres membuat wanita hamil sering mengalami masalah pencernaan. Salah satunya adalah diare. Diare saat hamil mungkin menimbulkan kekhawatiran, takut jika kandungannya bermasalah sehingga menyebabkan keguguran.

Apakah diare saat hamil itu rentan menyebabkan keguguran? Jawabannya tentu saja tidak. Sebab, organ reproduksi dan pencernaan itu berbeda fungsinya.

Ketika ibu hamil mengalami diare, pergerakan usus menjadi lebih aktif dan sulit menahannya. Kenyataannnya, otot yang digunakan untuk buang air besar sama dengan otot yang berfungsi saat mengejan ketika proses persalinan. Inilah yang menyebabkan kekhawatiran berlebih bagi ibu hamil.

Penyebab Diare Saat Hamil Sering Terjadi

Diare dan konstipasi kerap dialami oleh ibu hamil. Hal ini disebut sangat wajar karena disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:

  1. Perubahan Hormon

Fluktuatifnya hormon pada ibu hamil membuat kinerja sistem pencernaan lebih pelan dan rentan mengalami konstipasi. Selain itu, sistem pencernaan ibu hamil juga bekerja lebih cepat sehingga diare saat hamil sering terjadi

  • Perubahan Pola Makan

Adanya perubahan pola makan yang drastis ketika sedang hamil membuat usus menjadi kaget. Akibatnya hal ini dapat menyebabkan diare ketika masa kehamilan.

  • Infeksi Usus

Diare saat hamil yang terjadi juga disebabkan oleh adanya infeksi usus. Gejala yang muncul akibat infeksi usus adalah tinja cair, berdarah, mual, muntah, pusing, kedinginan, hingga demam. Penyebab infeksi usus ini biasanya karena infeksi bakteri, seperti Salmonella, E. coli, atau Shigella. Bisa juga disebabkan oleh virus atau parasit.

  • Suplemen

Respon sistem pencernaan terhadap asupan suplemen atau vitamin di masa kehamilan bisa berupa diare. Jika suplemen yang dikonsumsi menyebabkan diare berkepanjangan, mungkin Anda bisa mengganti dengan suplemen lain dan tanyakan pada dokter kandungan Anda.

  • Sensitif terhadap Makanan Tertentu

Indera ibu hamil biasanya jauh lebih sensitif. Sehingga banyak makanan yang dapat menyebabkan wanita hamil dengan mudah menjadi mual, sakit perut, kembung, hingga berujung diare.

Perlu diingat, diare dan pembukaan saat melahirkan tidak ada hubungannya sama sekali. Meskipun diare akan lebih sering terjadi di trimester ketiga kehamilan dikarenakan tubuh sedang bersiap menghadapi proses persalinan.

Tips Mengatasi Diare saat Masa Kehamilan

Mengalami diare ketika kondisi tubuh biasa dengan saat kehamilan mungkin penanganannya akan berbeda. Sebab, saat hamil, tidak boleh mengkonsumsi sembarang obat karena bisa berpengaruh pada janin.

Umumnya, diare saat hamil dapat sembuh sendiri setelah 1-2 hari tanpa obat. Anda juga tidak perlu khawatir jika tidak ada gejala lain yang terjadi.

Meski begitu, berikut ada beberapa cara untuk mengatasi diare saat hamil.

  • Hindari Makanan Pemicu

Saat mengalami diare, ibu hamil disarankan untuk menghindari makanan yang menjadi pemicu respon sistem cerna, seperti makanan yang digoreng, makanan pedas, dan makanan yang mengandung tinggi lemak. Diare juga bisa disebabkan oleh susu, lalu gantilah susu yang sedang Anda konsumsi dengan yang lain agar diare berhenti.

  • Beri Tubuh Waktu

Anda perlu memberi tubuh waktu untuk mengeluarkan racun yang tidak bisa dicerna tubuh. Tunggu diare mereda sambil tetap memnuhi cairan tubuh agar tidak dehidrasi.

  • Pilihlah Obat yang Bijak

Saat masa kehamilan, Anda perlu bijak mengkonsumsi obat. Kalau perlu konsultasikan pada dokter kandungan sebelum konsumsi obat tertentu. Jika diare disebabkan oleh suplemen makanan tertentu, biarkan tubuh beradaptasi terlebih dulu. Kemudian, Anda bisa mencari alternatif lain jika diare tak kunjung membaik.

Anda perlu memeriksakan diri ke dokter jika diare tidak kunjung sembuh dalam waktu lebih dari 3 hari. Pastikan tubuh terus terhidrasi dengan baik selama masa diare.

Anda tidak perlu terlalu khawatir sebab diare saat hamil tidak berbahaya bagi janin atau menyebabkan keguguran. Biasanya diare akan mereda dengan sendirinya. Jika ada gejala lain, segera hubungi dokter kandungan.

Parenting

Yuk Mulai Sekarang Cegah Kecanduan Gadget pada Anak agar Tumbuh Kembang Maksimal

Tahukah Anda bahwa anak sudah mulai dikenalkan pada gadget ketika baru memasuki usia 11 bulan atau kurang dari setahun? Data tersebut didasarkan pada hasil penelitian dari Pusat Medis Anak Cohen di New York yang mengambil sampel dari 65 keluarga. Disebutkan pula bahwa 97% responden memiliki perangkat digital layar sentuh. Tidak heran, jika dalam proses tumbuh kembangnya, banyak anak mengalami perilaku kecanduan gadget.

Craig Anderson, PhD, yang merupakan seorang profesor psikologi di Iowa State University mengatakan bahwa layer gadget dapat memberikan efek berbahaya untuk anak yang baru lahir, remaja, dan orang dewasa. Masalah yang mungkin akan dialami, antara lain terganggunya daya fokus ketika di sekolah, kualitas tidur yang buruk, kelebihan berat badan, gangguan pada penglihatan, hingga kurangnya interaksi sosial.

Program khusus untuk atasi kecanduan gadget pada anak

The Bozes Foundation adalah salah satu yayasan yang menginisiasi program khusus untuk mengatasi kecanduan gadget pada anak. Yayasan tersebut didirikan oleh pemilik Amazon, Jeff Bezos. Sebuah program yang disebut Vroom menyediakan pelajaran singkat yang dapat membantu orang tua untuk membangun interaksi dengan buah hatinya. Program ini dilengkapi dengan beberapa kegiatan yang dapat merangsang aktivitas otak usia dini dengan memaksimalkan kegiatan sehari-hari, seperti berkomunikasi ketika waktu sarapan.

Tips membatasi penggunaan gadget pada anak

Beberapa tips di bawah ini dapat Anda lakukan untuk membatasi penggunaan gadget pada anak.

  1. Batasi waktu penggunaan gadget

Membatasi waktu penggunaan gadget pada anak merupakan hal sederhana, namun membutuhkan ketegasan. Anak perlu untuk diajari bagaimana menggunakan waktu, seperti mengetahui waktu spesifik untuk mematikan gadget atau menghentikan penggunaannya.

  1. Berikan contoh yang baik pada anak

Anak pada dasarnya akan meniru segala tindakan dan perilaku yang dilakukan oleh orang tua. Penting bagi Anda untuk dapat disiplin dalam menggunakan gadget. Sebelum Anda memarahi anak karena terlalu sering bermain dengan gadget, refleksikan terlebih dahulu perilaku Anda, apakah Anda pernah menggunakan gadget secara intens ketika anak-anak berada di sekitar Anda? Banyak riset yang menunjukkan bahwa orang tua lebih fokus pada gadget mereka dibanding membangun komunikasi dengan anak.

  1. Bantu anak menemukan hobi

Anak akan cenderung memiliki perilaku kecanduan gadget jika ia tidak memiliki ketertarikan pada kegiatan lainnya. Maka dari itu, penting bagi Anda untuk membantu anak menemukan hobi atau setidaknya kegiatan lain yang ia senangi, seperti bersepeda, membaca, menggambar, atau kegiatan lain yang mendorong kreativitas anak.

Parenting

Problem Solving Dapat Menghindari Anda dari Bullying di Sekolah

Problem solving merupakan metode yang berawal dari penelitian Borba pada pelaku bullying di sekolah. Ternyata, kata dia, sebagian besar dari mereka punya masalah pribadi dan mereka tak tahu cara memecahkannya. Merundung orang lain menjadi salah satu cara pelaku untuk melampiaskan kekesalan yang dia alami.

Menurut Borba, penelitian selama tiga puluh menghasilkan solusi bahwa perilaku penindasan dapat dikurangi dengan upaya sistematis, berkelanjutan, dan berbasis ilmiah. Dia menekankan pentingnya anak-anak untuk belajar bekerja sama untuk menyelesaikan masalah mereka. “Keterampilan memecahkan masalah adalah salah satu cara terbaik untuk membantu anak-anak dan remaja mengekang potensi pertengkaran, mengelola konflik, memunculkan empati sekaligus mengurangi peluang tindakan kekerasan,” kata dia

Pendapat Borba sejalan dengan hasil analisa American Psychological Association. Riset terhadap 153 kasus intimidasi menemukan fakta bahwa anak-anak, terutama laki-laki, yang kesulitan dalam memecahkan masalah berisiko menjadi pelaku intimidasi, target, atau keduanya. Pelaku atau objek bullying juga kurang memiliki keterampilan sosial dan kerap berpikir negatif.

“Seorang pengganggu biasanya sulit menyelesaikan masalah dengan orang lain dan juga memiliki masalah akademis,” kata peneliti utama American Psychological Association, Clayton R. Cook. “Demikian juga dengan korban yang cenderung agresif, kurang keterampilan sosial, berpikir negatif, dan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah sosial.”

Perundungan atau bullying pada anak menjadi momok para orang tua. Tindakan kekerasan ini seolah tak terhindarkan meski anak berada di tempat yang seharusnya aman, seperti sekolah atau tempat bermain yang diawasi orang tua. Oleh karena itu, ajarilah anak untuk menghindari bullying di sekolah.

Karena itu, untuk menghindarkan anak dari perilaku bully, ada beberapa pendekatan.

  1. Beri kesempatan untuk memecahkan masalah mereka sendiri. Amati cara mereka menyelesaikan konflik atau memecahkan masalah. Namun jika ada gejala kekerasan segera turun tangan untuk membantu menyelesaikannya.
  2. Ajarkan langkah-langkah pemecahan masalah. Sebagai orang dewasa, orang tua pasti punya metode masing-masing untuk memecahkan aneka masalah. Metode ini yang sebaiknya ditularkan pada anak-anak. Biasakan mereka berpikir matang dan bertindak hati-hati untuk meminimalisir dampak buruk.
  3. Adil dalam menyelesaikan konflik. Coba untuk adil pada pelaku dan korban, yang sama-sama berusia belia. Dalam hal ini, nasihat lebih baik ketimbang hukuman. 
  4. Biasakan dialog untuk memecahkan masalah.