Penyakit

Ternyata Ngupil Bisa Berbahaya

Ternyata Ngupil Bisa Berbahaya

Ternyata ngupil adalah kebiasaan yang aneh. Alasan orang ngupil kemungkinan berbeda dari orang ke orang. Hidung yang kering atau terlalu lembab dapat menyebabkan iritasi dan pilihan cepat, seperti ngupil dapat mengurangi ketidaknyamanan tersebut.

Beberapa orang ngupil karena bosan atau karena kebiasaan gugup. Alergi dan infeksi sinus juga dapat meningkatkan jumlah lendir di hidung. Dalam situasi yang jarang terjadi, mengupil adalah perilaku kompulsif dan berulang. Kondisi yang disebut rhinotillexomania ini sering kali menyertai stres atau kecemasan dan kebiasaan lain seperti menggigit kuku atau menggaruk. Bagi orang dengan kondisi ini, mengupil sebentar bisa meredakan kecemasan.

Tetapi kebanyakan orang yang mengupil, termasuk orang yang melakukannya di dalam mobil, melakukannya karena kebiasaan, bukan paksaan. Mengupil mungkin tidak dapat diterima secara sosial, tetapi bisa juga berbahaya.

Mengupil hidung mirip seperti meletusnya jerawat, menggaruk keropeng, atau membersihkan telinga dengan kapas. Anda tahu Anda seharusnya tidak melakukannya, tetapi terkadang Anda tidak dapat menahan diri.

Ngupil mungkin tidak menyebabkan masalah serius bagi Anda. Namun, masalah potensial ini sangat bermasalah bagi orang yang sakit atau memiliki sistem kekebalan yang lebih lemah:

  • Infeksi. Kuku jari bisa meninggalkan luka kecil di jaringan hidung Anda. Bakteri yang berpotensi berbahaya dapat menemukan jalan ke celah ini dan menyebabkan infeksi. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2006 menemukan bahwa orang yang ngupil lebih mungkin membawa Staphylococcus aureus, bakteri yang bertanggung jawab atas apa yang bisa menjadi infeksi serius.
  • Menyebarkan penyakit. Lendir menangkap debu, bakteri, virus, dan debu yang Anda hirup setiap hari. Anda dapat berbagi kuman tersebut saat ngupil. Satu studi menemukan bahwa ngupil dapat menyebarkan bakteri yang bertanggung jawab atas sejumlah besar pneumonia.
  • Kerusakan rongga hidung. Ngupil yang sering atau berulang dapat merusak rongga hidung Anda. Satu studi menemukan bahwa orang dengan ngupil kompulsif (rhinotillexomania) dapat mengalami peradangan dan pembengkakan pada jaringan hidung. Seiring waktu, hal ini dapat mempersempit lubang hidung.
  • Mimisan. Menggaruk dan menggali hidung dapat merusak atau menghancurkan pembuluh darah yang halus dan bisa menyebabkan pendarahan.
  • Sakit. Vestibulitis hidung adalah peradangan di bukaan dan bagian depan rongga hidung Anda. Biasanya disebabkan oleh infeksi ringan Staphylococcus. Kondisi ini bisa menyebabkan luka yang bisa menimbulkan keropeng yang menyakitkan. Demikian juga, saat Anda ngupil, Anda bisa mencabut bulu hidung dari folikelnya. Jerawat kecil atau bisul bisa terbentuk di folikel tersebut.
  • Kerusakan septum. Septum adalah bagian tulang dan tulang rawan yang membelah lubang hidung kiri dan kanan. Mengupil hidung secara teratur dapat merusak septum dan bahkan menyebabkan lubang.

Meskipun ngupil bisa menyebabkan efek samping yang berbahaya, mengupil dapat mencegah rasa malu saat teman harus memberitahu Anda bahwa Anda memiliki kotoran di lubang hidung Anda. Selain itu, tidak ada manfaat besar untuk mengupil dan lebih banyak potensi resiko dibandingkan dengan manfaatnya.

Terlepas dari resiko yang mungkin terjadi, mayoritas orang tetap ngupil dari waktu ke waktu. Jika kebiasaan ngupil tidak menyebabkan kerusakan hidung atau tidak menjadi perilaku kompulsif dan berulang, Anda mungkin bisa melakukannya dengan aman. Namun, jika Anda merasa sering ngupil dan tidak dapat berhenti, segera temui dokter untuk berkonsultasi mengenai pencegahan mengupil secara terus menerus.

Penyakit

Mengenal Seluk Beluk Dokter Spesialis Ginjal dan Hipertensi

Mengenal Seluk Beluk Dokter Spesialis Ginjal dan Hipertensi

Beberapa jenis pengobatan perlu dilakukan oleh dokter spesialis sebab membutuhkan kompetensi khusus. Salah satunya adalah penyakit dalam. Dokter spesialis penyakit dalam sendiri masih terbagi lagi menjadi beberapa dan lebih spesifik. Dokter spesialis ginjal dan hipertensi khusus menangani berbagai keluhan medis yang berhubungan dengan gangguan ginjal dan darah tinggi. Untuk mengetahui lebih jelasnya, berikut ini akan dijelaskan tentang seluk beluk dokter spesialis ginjal dan hipertensi. 

Pilihan karir dokter spesialis ginjal dan hipertensi

Dokter spesialis ginjal dan hipertensi memiliki gelar Sp.PD-KGH telah mempelajari ilmu tentang penyakit ginjal (nefrologi) secara mendalam. Peran dokter ginjal adalah mendiagnosis serta menentukan pengobatan yang tepat untuk pasien. Terbagi menjadi dua jenis, dokter spesialis ginjal dan hipertensi untuk anak dan dewasa menjalani alur pendidikan yang berbeda. Untuk spesialis ginjal dewasa, pendidikan dokter spesialis penyakit dalam harus diselesaikan terlebih dahulu kemudian melanjutkan dengan mendalami bidang nefrologi. Sedangkan pada spesialis ginjal anak, pendidikan spesialis anak perlu diambil dan diselesaikan terlebih dahulu kemudian melanjutkan dengan mendalami spesialisasi nefrologi untuk anak. Pilihan karir setelah menyelesaikan pendidikan tidak terbatas hanya menjadi dokter spesialis ginjal dan hipertensi saja. Beberapa pilihan karir yang dapat dipilh yaitu bekerja di perusahaan obat-obatan, di bidang akademisi, di perusahaan alat kesehatan, atau menyediakan layanan cuci darah.

Penyakit yang ditangani dokter spesialis ginjal dan hipertensi

Pada tubuh manusia, normalnya terdapat dua buah ginjal. Kerusakan dapat terjadi pada salah satu atau keduanya sekaligus. Kerusakan pada ginjal akan ditangani oleh dokter spesialis. Dokter ginjal sendiri dapat membantu memberi saran untuk pencegahan, melakukan diagnosis, dan memberikan pengobatan terkait beberapa jenis penyakit yang berhubungan dengan ginjal. Berikut ini beberapa penyakit yang biasanya ditangani oleh dokter spesialis ginjal dan hipertensi. 

  • Tumor atau kanker ginjal
  • Penyakit ginjal karena hipertensi
  • Penyakit ginjal sejak lahir
  • Penyakit ginjal akut dan kronis
  • Penyakit ginjal polikistis (PCOS)
  • Penyakit ginjal terkait diabetes
  • Sindrom nefrotik 
  • Nekrosis tubular akut
  • Infeksi ginjal
  • Infeksi saluran kemih
  • Batu saluran kemih
  • Kolik renal
  • Lupus nefritis
  • Glomerulonefritis akut dan kronis

Tanda harus ke dokter spesialis ginjal dan hipertensi 

Semua orang memiliki kemungkinan terkena penyakit ginjal. Akan tetapi terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit ginjal. Faktor tersebut meliputi adanya riwayat penyakit ginjal di keluarga, efek samping obat, infeksi, usia, penyakit diabetes, stroke, penyakit jantung, serta tekanan darah tinggi. Beberapa tanda ini menunjukkan bahwa Anda perlu menemui dokter spesialis ginjal dan hipertensi. 

  • Tekanan darah tinggi
  • Nyeri pada pinggang atau punggung bawah 
  • Adanya darah pada urine
  • Lelah dan pucat akibat anemia yang dipicu gangguan ginjal
  • Pembengkakan di tubuh baik sebagian maupun keseluruhan 
  • Pusing karena ketidakseimbangan asam dan basa serta gangguan elektrolit
  • Frekuensi berkemih berkurang drastis bahkan bisa tidak berkemih sama sekali

Tindakan dokter spesialis ginjal dan hipertensi

Pada beberapa kasus tertentu, dokter ginjal mungkin meminta bantuan dokter gizi atau dokter urologi sehingga pasien mendapatkan penanganan terbaik. Akan tetapi, sebelum melakukan penanganan untuk mengobati pasien, dokter ginjal perlu menegakkan diagnosis dengan cara melakukan pemeriksaan fisik, menelusuri riwayat dan rekam medis pasien, melakukan pemeriksaan fungsi ginjal, serta tes biopsi untuk mengetahui kemungkinan keterkaitan dengan penyakit kanker dan tumor. Beberapa tes yang dilakukan oleh dokter ginjal yaitu: 

  • Tes urine
  • Tes darah
  • Tes kreatinin dan ureum 
  • Glomerular Filtration Rate (GFR)
  • Tes pencitraan seperti USG, CT scan, MRI atau urografi

Saat Anda melakukan pemeriksaan pada dokter umum karena kondisi yang berhubungan dengan ginjal dan terindikasi membutuhkan penanganan lebih spesifik, maka nantinya Anda akan dirujuk untuk bertemu dengan dokter ginjal. Biaya berkonsultasi ke dokter ginjal berkisar antara 200 ribu sampai 8 juta rupiah. Anda dapat menggunakan kartu BPJS untuk membantu meringankan biaya.

Jika ada pertanyaan lebih lanjut seputar kesehatan ginjal maka dapat Anda tanyakan langsung pada dokter ahlinya melalui aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Unduh sekarang di App Store atau Google Play. 

Penyakit

Bentuk Kuku Seperti Sendok? Mungkin Ini Tanda Koilonychia

Bentuk Kuku Seperti Sendok? Mungkin Ini Tanda Koilonychia

Kondisi kuku seseorang bisa memberikan tanda mengenai kesehatan orang tersebut secara keseluruhan. Saat seseorang menderita koilonychia, mereka akan mengalami perubahan bentuk kuku menjadi menyerupai sendok.

Kuku penderita kondisi ini akan melengkung seperti sendok. Bahkan, bentuk kuku ini terkadang mampu menampung air. 

Penyebab seseorang mengalami koilonychia

Sebenarnya, ada beberapa faktor yang bisa membuat seseorang menderita kondisi koilonychia. Berikut ini beberapa faktor penyebab yang paling umum:

  • Anemia defisiensi besi

Kondisi anemia jenis ini terjadi saat Anda mengalami defisiensi atau kekurangan zat besi. Kondisi inilah yang paling sering menjadi faktor utama koilonychia. 

Anemia defisiensi besi paling sering terjadi pada anak-anak dan wanita di masa usia kehamilan. Ada beberapa kondisi medis yang bisa menyebabkan kekurangan zat besi, seperti malnutrisi, kanker, penyakit celiac, pendarahan di saluran usus, dan lain sebagainya.

Selain itu, defisiensi besi juga bisa terjadi pada orang yang kurang mengonsumsi folat, protein, dan juga vitamin C. 

  • Kondisi autoimun

Autoimun adalah kondisi yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru dalam menyerang sel-sel yang sehat dalam tubuh Anda. Penyakit ini menjadi salah satu kondisi yang bisa menyebabkan bentuk kuku menyerupai sendok.

Salah satu jenis autoimun yang berkontribusi dalam menyebabkan koilonychia adalah lupus, psoriasis, dan lichen planus.

Pada psoriasis, perubahan bentuk dan warna kuku memang menjadi salah satu gejala signifikan. 

  • Faktor lingkungan

Menurut para ahli, ada hubungan antara perubahan kondisi kuku dengan paparan produk yang mengandung minyak bumi. Produk perawatan rambut biasanya mengandung minyak bumi, dan terlalu sering terpapar dengan produk ini bisa menyebabkan koilonychia.

Selain itu, penduduk dataran tinggi juga lebih mungkin menderita kondisi ini. Karena, udara di dataran tinggi mengandung lebih sedikit oksigen. 

Ketika kadar oksigen rendah, tubuh akan menghasilkan lebih banyak sel darah merah dengan memanfaatkan zat besi. Hal ini bisa menyebabkan penurunan kadar zat besi dalam tubuh. 

  • Faktor genetik

Percaya atau tidak, koilonychia juga bisa disebabkan oleh faktor genetik. Beberapa kondisi genetik yang menyebabkan hal ini adalah sindrom nail-patella dan Hemochromatosis.

Hemochromatosis merupakan kondisi yang terjadi saat tubuh memiliki kadar zat besi yang terlalu berlebih. Hal ini akan merusak organ, memberikan racun dan menyebabkan berbagai kondisi, seperti kanker, sirosis hati, dan denyut jantugn yang tidak teratur.

Sementara, sindrom nail-patella merupakan kondisi genetik yang menyebabkan pertubuhan kuku yang lemah dan kecil. 

Upaya mengatasi koilonychia

Meskipun kondisi ini membuat kuku Anda terlihat mengerikan, Anda tidak perlu mengkhawatirkannya. Koilonychia hanyalah satu dari sekian banyak masalah pada kuku. Kerusakan kuku juga bisa terjadi saat Anda mengalami infeksi jamur.

Apabila muncul gejala dari kondisi kuku seperti sendok, berikut langkah-langkah yang bisa Anda lakukan:

  • Menempelkan kembali kuku yang rusak ke asalnya
  • Memilih alas kaki yang tidak mengganggu kuku kaki Anda
  • Membersihkan kuku dengan menggunakan sikat kuku yang bersih dan lembut
  • Menjaga kebersihan kuku dengan rutin
  • Memakai sarung tangan karet saat mencuci menggunakan produk pembersih
  • Mengoleskan krim pelembab ke kuku tangan 
  • Memotong kuku setelah mandi atau saat sedang mandi, ketika kondisi kuku sedang lunak
  • Menjaga kuku tetap pendek dan lurus dan kuku kaki lurus ke atas

Apabila gejala dari koilonychia mengganggu aktivitas sehari-hari Anda, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan perawatan yang lebih efektif.

Penyakit

Trauma Thorax: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Komplikasinya

Trauma thorax adalah salah satu penyebab kematian terbesar di dunia, seperti di Amerika Serikat, trauma ini menyebabkan sekitar 25% kematian yang traumatis. Trauma thorax atau disebut juga sebagai cedera dada, dapat menyebabkan kematian pada menit atau jam pertama setelah trauma. Apa sebenarnya penyebab trauma thorax? Bagaimana pula penanganan tepatnya?

Penyebab trauma thorax

Cedera dada dapat terjadi akibat trauma tumpul atau tembus. Cedera ini bisa meliputi:

  • Gangguan aorta.
  • Cedera jantung tumpul.
  • Tamponade jantung.
  • Flail chest. 
  • Hemotoraks.
  • Pneumotoraks (traumatis, terbuka, dan tegangan).
  • Memar paru. 

Selain itu, cedera tulang (tulang rusuk dan klavikula), serta kerusakan esofagus dan diafragma juga dapat terjadi akibat trauma thorax. Hal ini dikarenakan posisi diafragma yang bisa setinggi garis puting selama pernafasan, sehingga trauma tembus ke dada dapat menyebabkan cedera intra-abdominal.

Sebagian besar kasus morbiditas dan mortalitas akibat trauma thorax terjadi karena cedera mengganggu pernapasan, sirkulasi, atau keduanya.

Pernapasan 

Trauma thorax yang disebabkan cedera respirasi, berupa:

  • Kerusakan langsung ke organ paru-paru atau saluran pernapasan, seperti memar paru dan gangguan trakeobronkial.
  • Mekanisme pernapasan yang terganggu dan berubah, seperti hemotoraks, pneumotoraks, dan flail chest.

Sirkulasi terganggu

Sirkulasi dapat terganggu akibat:

  • Perdarahan, seperti yang terjadi pada hemotoraks, dapat menyebabkan syok.
  • Penurunan aliran balik vena akibat tekanan intratoraks pada pneumotoraks atau tekanan intraperikardial pada tamponade jantung meningkat.
  • Gagal jantung atau kelainan lainnya akibat cedera jantung tumpul yang merusak miokardium atau katup jantung.

Seperti apa tanda dan gejalanya?

Gejala trauma thorax bisa berupa:

  • Nyeri dada, dapat semakin memburuk saat bernapas jika dinding dada terluka.
  • Sesak napas.
  • Ekimosis.
  • Hipotensi.
  • Syok.
  • Suara napas yang menurun.
  • Distensi vena leher.
  • Perkusi di area yang terkena tumpul.
  • Gerakan tidak seimbang di bagian dinding dada ketika bernapas.
  • Emfisema subkutan menyebabkan suara berderak yang khas dan sinkron dengan detak jantung (tanda Hamman atau suara keras Hamman). 

Diagnosis

Diagnosis trauma thorax ditentukan berdasarkan hasil evaluasi klinis, rontgen dada, dan terkadang tes pencitraan lain, seperti CT, ultrasonografi, dan tes pencitraan aorta. 

Evaluasi klinis

Ada lima kondisi yang harus diatasi secepat mungkin, karena dapat berisiko tinggi kematian, yaitu:

  • Hemotoraks masif.
  • Pneumotoraks terbuka.
  • Pneumotoraks tegangan. 
  • Flail chest. 
  • Tamponade jantung.

Pengobatan trauma thorax didasarkan pada hasil pemeriksaan klinis, meliputi kedalaman dan simetri cedera dinding dada, paru-paru, dan leher. Jika pasien memiliki gangguan pernapasan, maka pemeriksaan secara klinis, oksigenasi, dan ventilasinya harus dipantau.

Adapun cedera dada tembus, lokasi cederanya dapat membantu memprediksi risiko cedera. Luka dengan risiko tinggi adalah luka yang mengenai puting susu atau skapula dan melintasi dada dari sisi ke sisi (memasuki satu hemitoraks dan keluar dari sisi yang lain). Kondisi ini dapat melukai bagian pembuluh hilar atau besar, jantung, trakeobronkial, atau esofagus. 

Pasien dengan gejala obstruksi jalan nafas parsial atau lengkap pasca mengalami trauma thorax tumpul harus segera diintubasi untuk mengontrol jalan nafasnya. 

Apabila pasien mengalami kesulitan bernapas, maka cedera parah yang perlu dipertimbangkan selama pemeriksaan adalah:

  • Hemotoraks masif.
  • Pneumotoraks terbuka.
  • Pneumotoraks tegangan. 
  • Flail chest. 

Sementara itu, jika pasien mengalami gangguan sirkulasi, maka cedera parah yang perlu dipertimbangkan selama pemeriksaan adalah:

  • Hemotoraks masif.
  • Pneumotoraks tegangan. 
  • Tamponade jantung.

Cedera dada lainnya, seperti cedera jantung tumpul dan gangguan aorta, dapat menyebabkan syok, tetapi tidak ditangani selama pemeriksaan utama. Namun, perdarahan tetap harus ditangani, terlepas apakah trauma thorax menyebabkan syok atau tidak.

Pencitraan

Jika pasien mengalami trauma thorax yang signifikan, tes pencitraan biasanya dilakukan, seperti rontgen dada, ultrasonografi jantung, dan CT dada. Tes lainnya juga mungkin dilakukan untuk cedera aorta, termasuk aortografi dan ekokardiografi transesofagus.

Laboratorium dan pengujian lainnya

Pemeriksaan laboratorium juga dilakukan, seperti hitung darah lengkap, yang berguna sebagai dasar untuk mendeteksi perdarahan yang sedang terjadi. Hasil pemeriksaan gas darah arteri membantu memantau kondisi pasien dengan hipoksia atau gangguan pernapasan. Penanda jantung, misalnya troponin, isoenzim pita otot kreatin fosfokinase (CPK-MB), juga dapat membantu mengatasi cedera jantung tumpul. EKG biasanya dilakukan untuk trauma thorax yang parah atau berkaitan dengan cedera jantung. Ini karena cedera jantung dapat menyebabkan aritmia, kelainan konduksi, atau lainnya.

Komplikasi trauma thorax

Umumnya, cedera dada menyebabkan rasa nyeri saat bernapas, sehingga penderita sering membatasi inspirasi (splinting). Komplikasi umum lainnya adalah atelektasis, yang dapat menyebabkan hipoksemia, pneumonia, atau keduanya. Jika penderita trauma thorax menjalani prosedur torakostomi tabung dan hemotoraks tidak terkuras sepenuhnya, maka dapat mengalami infeksi intratoraks purulen (empiema). 

Penyakit

Ini Penjelasan Tentang Varikokel

Ini Penjelasan Tentang Varikokel

Varikokel merupakan kondisi pembengkakan yang terjadi pada pembuluh darah vena pada kantong zakar atau skrotum. Skrotum ini berfungsi menahan testis serta mengandung arteri dan vena di saluran sperma, pada setiap testis di skrotum. Pembengkakan yang terjadi tentu mengganggu fungsi kantong zakar, untuk mengatasinya diperlukan cara menyembuhkan varikokel.

Pembuluh darah yang membawa darah dari testis ke penis seharusnya tidak teraba atau terasa, namun ketika terjadi varikokel pembuluh darah vena ini tampak seperti terdapat banyak cacing dalam skrotum, kondisi ini sama seperti dengan varises pada tungkai. Varikokel bisa muncul saat seseorang berusia 15 hingga 25 tahun dan sebagian besar ditemukan pada skrotum sebelah kiri.

Cara Menyembuhkan Varikokel

Sebagian besar kondisi ini tidak menyebabkan gejala dan tidak menimbulkan bahaya, sehingga tidak diperlukan adanya pengobatan. Saat kondisi ini menimbulkan rasa nyeri, dokter menanganinya dengan memberikan obat pereda nyeri, seperti ibuprofen dan paracetamol. 

Selain itu, pasien juga akan disarankan menggunakan celana penyangga testis untuk meredakan tekanan. Varikokel yang menimbulkan rasa nyeri hebat atau sampai membuat testis menjadi kecil hingga membuat kemandulan, maka diperlukan beberapa tindakan medis seperti berikut.

  • Embolisasi

Proses ini dilakukan dengan cara memasukkan sebuah selang guna menjangkau vena di lokasi varikokel melalui selangkangan atau leher. Dokter akan memasukkan zat untuk memperbaiki aliran darah dan varikokel, proses ini dilakukan dengan bius total dan prosedurnya memakan waktu beberapa jam.

  • Operasi

Tindakan medis ini dilakukan dengan cara dokter akan menjepit atau mengikat pembuluh darah yang menjadi varikokel, tujuannya untuk menghambat aliran darah ke pembuluh tersebut sehingga bisa mengalir ke pembuluh darah normal lainnya.

Operasi ini bisa dilakukan dengan proses pembedahan terbuka atau teknik sayatan minimal dengan bantuan alat khusus yang dinamakan laparoskop. Operasi dapat dilakukan dengan obat bius total atau setempat.

Proses penyembuhan pasca tindakan bisa dalam sehari atau dua hari, meski demikian pasien harus menghindari kegiatan berat selama 10 hingga 14 hari. Selain itu, dibutuhkan pemeriksaan selanjutnya oleh dokter urologi selama tiga hingga empat bulan, khususnya bagi penderita yang juga mengalami kemandulan.

Pencegahan Varikokel

Berbeda dengan penis, testis pada laki-laki memang memiliki ukuran yang sama meski tidak menutup kemungkinan seseorang bisa memiliki testis dengan ukuran yang lebih besar ketimbang orang lain. Testis seharusnya terasa lembut, tanpa gumpalan atau benjolan yang terasa kokoh tapi tidak keras, selain cara menyembuhkan varikokel, langkah pencegahan juga bisa dipakai sebagai alternatif.

  • Periksa Bentuk

Periksa masing-masing testis pada waktu yang berbeda, rasakan seperti apa bentuknya ketika memegang testis. Tujuan memegang testis satu persatu untuk membedakan masing-masing bentuk testis dan mengenali tanda-tanda yang tidak biasa.

  • Periksa Setelah Mandi

Langkah ini bisa dilakukan pada malam hari, setelah mandi menggunakan air hangat agar skrotum berada dalam keadaan rileks dan lembut. Coba pegang testis sedikit lebih ketat, tapi tetap rileks dan tidak terlalu kendur atau kencang ketika memegangnya.

  • Lakukan Gerakan Melingkar

Pakai jari kedua tangan melakukan gerakan memutar pada satu testis, rasakan apakah muncul benjolan atau bengkak seperti butiran beras yang tertanam di dalamnya. Jika ada, ingat atau tuliskan dengan rinci perubahan yang terjadi dalam beberapa waktu ke depan.

Perubahan yang terjadi bisa seperti benjolan yang membesar, sensasi geli atau malah muncul benjolan baru. Ingat juga seberapa besar ukuran benjolan yang muncul dari waktu ke waktu dan temui dokter untuk melakukan konsultasi.

Penyakit

Radang Telinga Tengah Pada Anak, Kenali Gejalanya!

Mungkin hampir semua orang anak pernah mengalami yang namanya batuk, flu, atau ruam popok tanpa masalah yang berarti. Namun, radang telinga tengah mungkin hanya beberapa anak saja yang mengalami masalah tersebut.

Sebenarnya apa itu infeksi telingan bagian tengah yang terjadi pada anak dan seringkali membuat bayi atau anak-anak mengalami demam. Yuk, kenali lebih jauh dengan penyakit satu ini dan apa saja gejala yang sering muncul saat mengalaminya.

Apa itu radang telinga tengah?

Radang telinga tengah atau otitis media adalah infeksi telinga yang terjadi ketika virus atau bakteri masuk ke telinga tengah, ruang di belakang gendang telinga. Ketika seorang anak mengalami otitis media ini, maka telingan tengah Si Kecil akan terisi oleh nanah (cairan yang terinfeksi). Nanah tersebut mendorong gendang telinga yang bisa sangat menykitkan.

Apa saja tanda dan gejalanya?

Sakit pada telinga adalah salah satu tanda utama infeksi telinga tengah. Anak-anak juga mungkin memiliki gejala seperti:

  • Demam 
  • Kesulitan makan, minum dan tidur. Mengunyah, menghisap, dan berbaring dapat menyebabkan perubahan tekanan yang menyakitkan di telinga tengah
  • Waktu tidur yang buruk
  • Drainase dari telinga, cairan kuning, cokelat, atau putih yang bukan kotoran telingan merebes dari telinga. Ini mungkin berarti gendang telinga telah pecah
  • Kesulitan mendengar

Anak-anak yang lebih besar dapat mengeluh tentang sakit telinga, tetapi seorang anak yang lebih kecil mungkin hanya akan menarik-narik telinga atau menjadi rewel dan menangis lebih dari biasanya, karena merasakan sakit pada telinga.

Jika tekanan dari penumpukan cairan cukup tinggi, gendang telinga dapat pecah, dengan cairan yang keluar dari telinga. Ini adalah penyebab umum pecahnya gendang telinga pada anak-anak. Seorang anak dengan gendang telinga yang pecah mungkin merasa pusing atau mual, dan telingan berdenging atau berdegung.

Bagaimana infeksi bisa terjadi?

Radang telinga tengah biasanya terjadi karena pembengkakan di salah satu atau kedua saluran eustachius (yang menghubungkan telinga tengah ke bagian belakang tenggorokan). Saluran tersebut membiarkan lendir mengalir dari telinga tengah ke tenggorokan.

Flu, infeksi tenggorokan, asam refluks, atau alergi dapat membuat tabung eustachius membengkak. Ini akan menghalangi lendir mengalir. Lalu virus atau bakteri tumbuh di lendir dan menghasilkan nanah, yang menumpuk di telinga tengah.

Anak-anak (terutama dalam 2 hingga 4 tahun pertama kehidupannya) lebih sering mengalami infeksi telinga daripada orang dewasa karena beberapa alasan. Meliputi:

  • Saluran eustachiusnya yang lebih pendek dan horizontal memungkinkan bakteri dan virus lebih mudah masuk ke telinga tengah. Tabungnya juga lebih sempit, jadi lebih mungkin tersumbat.
  • Adenoid mereka, struktur seperti kelenjar di bagian belakang tenggorokan, lebih besar dan dapat mengganggu pembukaan saluran eustachius.

Hal lain yang membuat anak-anak lebih berisiko termasuk perokok pasif, pemberian susu botol, dan berada di sekitar anak-anak lain di penitipan anak. Infeksi telinga lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada perempuan.

Radang telinga dalam ini tidak menular, tetapi pilek yang terkadang menyebabkannya bisa menular. Infeksi sering terjadi selama cuaca musim dingin, ketika banyak orang terkena infeksi saluran pernapasan bagian atas atau pilek (anak dengan infeksi telinga juga mungkin mengalami gejala flu, seperti pilek atau hidung tersumbat atau batuk).

Pencegahan

Berikut beberapa cara untuk mengurangi risiko infeksi telinga apada anak:

  • Kontrol alergi, peradangan dan lendir yang disebabkan oleh reaksi alergi dapat menghalangi saluran eustachius dan membuat infeksi.
  • Menyusui bayi Anda, ASI memiliki antibodi yang baik yang berfungsi untuk mengurangi laju infeksi telinga.
  • Vaksinasi, tanyakan pada dokter tentang vaksin pneumokokus, flu dan meningitis. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang divaksinasi memiliki lebih sedikit infeksi telinga.
  • Jangan merokok, menurut beberapa penelitian, anak-anak yang terpapar asap rokok orang lain memiliki kemungkinan dua hingga tiga kali lebih besar untuk terkena infeksi telinga dibandingkan dengan anak-anak lain.

Jika anak Anda mengalami beberapa gejala radang telinga tengah di atas disarankan untuk mengunjungi dokter. Dokter akan membantu mengatasi ketidaknyamanan Si Kecil, biasanya dengan memberikan asetaminofen atau ibuprofen kepada anak untuk meredakan nyeri dan demam. Dokter juga mungkin akan merekomendasikan penggunaan obat tetes telinga pereda nyeri selama gendang telinga tidak pecah. 

Penyakit

Gejala dan Cara Mengatasi Malaria Pada Anak

Anak-anak sering mengalami demam yang tentunya akan membuat panik semua orang tua, terutama jika demam tersebut tak kunjung turun. Salah satu hal yang ditakuti yaitu jika anak terkena malaria sebab gejala utamanya adalah demam tinggi dan menggigil. Malaria disebabkan oleh gigitan nyamuk yang terinfeksi oleh pasmodium. Jika tidak segera ditangani, malaria dapat menyebabkan anemia hingga kematian. Untuk itu, sebaiknya Anda memahami gejala malaria pada anak serta cara mengatasinya. Berikut penjelasan lebih lengkapnya. 

Gajala malaria pada anak

Gejala malaria pada anak berbeda dengan orang dewasa. Untuk anak usia di bawah 5 tahun dengan di atas 5 tahun, gejala malaria yang ditunjukkan juga berbeda. 

  1. Gejala pada anak di bawah usia 5 tahun

Pada anak usia di bawah 5 tahun, bisa jadi ia tidak mengalami demam ketika terserang malaria. Pada kasus tertentu, anak yang terkena malaria malah mengalami hipotermia yaitu kondisi ketika seseorang memiliki suhu tubuh jauh di bawah normal. Selain itu, berikut ini adalah gejala umum yang ditunjukkan oleh anak di bawah usia 5 tahun saat terkena penyakit malaria. 

  • Demam tinggi 
  • Jika tidak mengalami demam, maka mengalami hipotermia
  • Menggigil
  • Muntah
  • Sakit perut
  • Napas menjadi cepat
  • Sulit tidur 
  • Lemas
  • Mudah mengantuk 
  • Menjadi lebih rewel
  • Hilangnya nafsu makan
  1. Gejala pada anak di atas usia 5 tahun

Pada usia di atas 5 tahun, gejala malaria yang dimunculkan sudah lebih mirip seperti pada orang dewasa. Beberapa gejala tersebut di antaranya: 

  • Panas dingin dan menggigill
  • Nafsu makan menghilang
  • Badan terasa pegal-pegal
  • Demam tinggi yang berlangsung selama 48 jam
  • Keringat berlebih
  • Sakit kepala
  • Mual dan muntah 

Cara mengatasi malaria

Untuk menyembuhkan penyakit malaria, beberapa cara perlu dilakukan. Berikut ini cara mengatasi malaria terutama pada anak yang bisa Anda terapkan. 

  1. Konsumsi makanan bergizi

Agar tubuh anak tetap kuat, maka perlu adanya asupan nutrisi yang cukup. Meskipun nafsu makan pada anak berkurang drastis, usahakan ia tetap mengonsumsi berbagai makanan sehat dan bergizi. Apabila anak tidak mendapatkan asupan nutrisi yang cukup maka proses penyembuhan bisa semakin lama. 

  1. Minum obat antimalaria

Proses penyembuhan malaria dapat dibantu dengan pemberian obat. Dokter akan memberi resep sesuai dengan kondisi anak dan tingkat keparahan malaria yang dialami. Beberapa jenis obat antimalaria yaitu clindamycin, artemether, chloroquine, mefloquine, dan proguanil.

  1. Fokus turunkan demam 

Demam yang dialami anak bisa terasa sangat mengganggu tubuhnya. Untuk itu, sebaiknya Anda berusaha mengurangi demam yang terjadi pada anak dengan mengompres dahinya. Pemberian obat penurun demam juga diperlukan, namun alangkah baiknya Anda berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum memberikan obat. 

  1. Perbanyak istirahat

Salah satu gejala yang timbul karena penyakit malaria pada anak terutama di bawah usia 5 tahun adalah lemas. Anak-anak yang terkena malaria umumnya akan merasa kelelahan. Untuk itu, anak perlu banyak beristirahat untuk membantu memulihkan kondisinya. Pastikan anak tidak beraktivitas yang berat terlebih dahulu seperti bermain atau berolahraga, serta usahakan agar ia mendapat tdur yang cukup dan berkualitas. 

Upaya pencegahan penyakit malaria dapat dilakukan. Beberapa cara yang bisa diterapkan yaitu dengan rutin membersihkan rumah dan lingkungan sekitar sehingga tidak menjadi sarang nyamuk. Anda juga dapat memasang kelambu pada tempat tidur anak dan mengoleskan obat nyamuk di tangan dan kakinya. Selain itu, perlu juga dilakukan fumigasi secara rutin atau pengasapan di lingkungan tinggal setidaknya 3 bulan sekali untuk memastikan bahwa tidak ada nyamuk yang bersarang. 

Penyakit

Lansoprazole dan Omeprazole, Mana yang Paling Ampuh Atasi Gerd?

Bagi setiap orang yang mengalami GERD atau gastroesophageal reflux disease, keluhan yang biasanya dialami seperti nyeri dada seolah terbakar atau heartburn. Selain mengubah pola makan, biasanya obat-obatan seperti lansoprazole dan esomeprazole. Namun, sebelum mengonsumsinya perlu diketahui perbedaan lansoprazole dan esomeprazole terlebih dulu.

GERD merupakan salah satu kondisi yang menandakn naiknya asam lambung yang berlebih ke kerongkongan. Penyebabnya pun beragam, bisa dari kebiasaan merokok, menggunakan obat NSAID dalam jangka panjang dan masalah kesehatan tertentu.  Jika mulai merasakan GERD, pilihan utama untuk mengatasi kondisi ini adalah dengan mengonsumsi obat-obatan,

Perbedaan Lansoprazole dan Esomeprazole

Lansoprazole

Merupakan obat yang bisa mengurangi jumlah asam yang dihasilkan oleh lambung, obat ini juga digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan. Khususnya pada GERD dengan gejala yang biasanya muncu seperti nyeri ulu hati, sensasi terbakar tepat di dada, mual serta mulut yang terasa asam.

Selain itu, tekuk lambung dan kembung juga bisa diatasi dengan obat ini, kemudian pada kondisi langka yang disebabkan oleh tumor di pankreas atau usus (sindrom Zollinger-Ellison). Lansoprazole terkadang juga diandalkan untuk mengatasi kondisi tersebut, Bentuk obat ini berupa kapsul, tetapi juga ada yang berbentuk tablet dan cairan.

Selayaknya obat lambung pada umumnya, lansoprazole yang digunakan untuk mengatasi GERD juga dikonsumsi sebelum makan atau dalam keadaan perut kosong. Dosis obat ini  bermacam-macam, biasanya dokter akan memberi dosis sesuai dengan kondisi seseorang dan sesuai dengan rekomendasi dokter untuk orang dewasa 15 hingga 30 mg dalam sehari.

Esomeprazole

Secara umum obat ini sama dengan lansoprazole, esomeprazole merupakan obat yang berfungsi untuk mengurangi jumlah asam lambung, gejala GERD dan membantu penanganan sindrom Zollinger-Ellison. Esomeprazole merupakan obat generasi yang lebih baru, jika dicampur dengan naproxen dapat untuk mengatasi peradangan nyeri sendi dan otot.

Bentuk esomeprazole juga sama dengan lansoprazole, yakni tablet, kapsul, kaplet dan liquid, selain itu dokter juga akan memberi dosis sesuai dengan kondisi penyakit, usia, dan berat badan penderita. Namun, secara umum dosis yang akan diberikan dokter kepada pasien dewasa sekitar 20-40 mg dalam sehari.

Mana yang Lebih Baik untuk Mengatasi GERD

Terkait keampuhan kedua obat di atas untuk mengatasi GERD, efektivitas keduanya pernah diteliti dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan World Journal of Gastroenterology. Penelitian ini memberikan 40 mg esomeprazole, 30 mg lansoprazole, 20 mg omeprazole dan 40 mg pantoprazole pada sekitar 274 pasien refluks asam lambung selama delapan minggu.

Keempat obat ini memang kerap diberikan pada pasien yang mengalami masalah lambung dan hasil penelitian melaporkan, jika esomeprazole lebih efektif untuk mengatasi dan meredakan gejala dari GERD ketimbang tiga obat lainnya. Hal ini bahkan langsyng terlihat pada tujuh hari pertama setelah obat-obatan ini digunakan.

Namun, hasil ini tidak serta merta dijadikan sebagai patokan, karena hasilnya bisa bervariasi untu case esomeprazole melawan lansoprazole. Perbedaan lansoprazole dan esomeprazole terletak pada struktur molekul, selain itu harga esomeprazole cenderung lebih mahal karena generiknya sendiri baru disetujui oleh US Food and Drug Administration pada 2015 silam.

Sangat berbeda dengan lansoprazole yang harganya lebih mudah, selain itu generiknya juga sudah tersebar luas di Indonesia. Biaya dan ketersediaan obat perlu menjadi pertimbangan dalam pemberian dan konsumsi obat, khususnya bagi masyarakat Indonesia.

Penyakit

Hati-hati, Ini Penyebab Gejala Hipotensi Ortostatik

Bukan hanya tekanan darah tinggi yang perlu Anda waspadai. Tekanan darah rendah pun memiliki risiko bahaya yang mesti menjadi perhatian. Apalagi jika Anda tergolong memiliki gejala hipotensi ortostatik di mana tekanan darah akan menurun tiba-tiba tiap kali Anda berubah posisi dari duduk ke berdiri atau dari berdiri ke duduk atau tidur.

Hipotensi ortostatik kerap dipandang remeh orang sebagian orang karena umumnya hanya menimbulkan gejala pusing atau pandangan mata kabur sesaat setiap kali berubah posisi. Namun dalam tahap yang lebih serius, penyakit ini bisa membuat penderitanya mengalami pusing hingga bermenit-menit hingga pingsan. Jika sudah demikian, penderita hipotensi ortostatik tersebut tentu saja harus menemui dokter guna mendapatkan penanganan yang tepat.

Kondisi hipotensi ortostatik sendiri dipicu oleh berbagai sebab. Beberapa di antara penyebabnya bahkan mengacu pada kondisi masalah kesehatan yang serius. Memahami penyebab-penyebab hipotensi ortostatik di bawah ini pun dapat membuat Anda bisa lebih berhati-hati dan terhindar dari serangan tekanan darah yang turun tiba-tiba tersebut.

  • Dehidrasi

Orang-orang yang mengonsumsi cairan kurang dari kebutuhan harian cenderung lebih mudah terkena hipotensi ortostatik. Karena itu, pastikan Anda selalu terhidrasi cukup tiap harinya agar tidak mengalami penurunan tekanan darah yang tiba-tiba tiap kali berubah posisi.

  • Penyakit Jantung

Jantung memiliki fungsi mengalirkan darah dan oksigen ke seluruh tubuh. Ketika fungsi jantung menurun atau memiliki masalah, tekanan darah pun akan turut terkena imbasnya. Karena alasan inilah, orang-orang yang pernah mengalami serangan jantung ataupun gangguan irama jantung lebih rentan terkena hipotensi ortostatik.

  • Anemia

Orang yang kekurangan sel darah merah atau anemia cenderung juga bermasalah dengan tekanan darah. Penderita anemia umumnya juga memiliki tekanan darah rendah. Dalam beberapa kasus, tekanan darah rendah yang diidap oleh penderita anemia akan semakin parah dan memburuk tiap kali melakukan perubahan posisi tubuh, seperti dari berdiri ke duduk atau sebaliknya.

  • Penyakit Sistem Endokrin

Diabetes dan tiroid merupakan contoh dari penyakit yang menyerang sistem endokrin. Orang-orang yang terkena penyakit ini juga kerap bermasalah pada aliran darahnya. Masalah inilah yang akhirnya menimbulkan gejala hipotensi ortostatik pada penderita penyakit sistem endokrin.

  • Cuaca Panas

Cuaca juga bisa membuat seseorang terserang gejala hipotensi ortostatik. Adalah cuaca panas, yang bisa membuat Anda mengalami penurunan tekanan darah secara tiba-tiba ketika mengubah posisi tubuh. Gejala akan makin parah ketika cuaca panas tersebut tidak diimbangi dengan pengonsumsian cairan yang sepadan untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

  • Obat-obatan

Penggunaan beberapa jenis obat bisa memengaruhi tekanan darah Anda. Contoh obat yang bisa menurunkan tekanan darah secara tiba-tiba, di antaranya obat penghambat saluran kalsium, nitrat, juga penghamat angiotensin. Obat-obatan yang berisiko menimbulkan gejala hipotensi ortostatik umumnya yang merupakan jenis terapi untuk penderita penyakit kardiovaskular maupun penyakit sistem endokrin.

  • Kurang Aktivitas

Seseorang dengan tingkat mobilitas rendah atau kurang aktivitas juga cenderung mengalami hipotensi ortostatik. Contohnya, seseorang yang memiliki pola tidur lama lebih dari 8 jam sehari akan mudah merasa pusing ketika mengubah posisi ke duduk atau berdiri.

  • Aktivitas Makan

Makan tidak melulu membuat tekanan darah naik. Nyatanya didapati fakta, aktivitas makan bisa membuat seseorang mengalami hipotensi ortostatik sesaat setelahnya. Jadi ketika Anda makan, jangan langsung mengubah posisi ke berdiri karena tekanan darah bisa langsung turun secara tiba-tiba.

***

Jika Anda termasuk orang yang sering mengalami hipotensi ortostatik, cobalah mulai menghindari gejala-gejala yang dapat dijauhi. Memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan kondisi tubuh terkait pemicu tekanan darah yang turun tiba-tiba ini pun sangat disarankan.

Penyakit

5 Latihan Sederhana untuk Atasi Foot Drop

Foot drop atau yang biasa disebut drop foot adalaj ketidakmampuan untuk mengangkat bagian depan kaki karena kelemahan atau kelumpuhan otot dan saraf yang berfungsi mengangkat kaki. Nah, foot drop sendiri bukanlah penyakit, ini adalah gejala dari masalah atau kondisi medis yang lebih besar.

Sebenarnya drop foot bukanlah sebuah penyakit, kondisi ini adalah gejala dari masalah kondisi medis yang lebih besar. Anda dapat mengenali jika Anda menderita drop foot dari cara atau gaya berjalan Anda.

Pasalnya, ketika Anda menderita foot drop dapat menyeret jari-jari kaki mereka di sepanjang jalan saat berjalan, karena mereka tidak dapat mengangkat bagian depan kaki mereka dalam setiap langkahnya. Untuk menghindari menyeret kaki atau tersandung, penderita mungkin akan mengakat lutut lebih tinggi atau mengayunkan kaki mereka.

Tanda lain foot drop yang paling umum:

  • Menyeret kaki atau menggesek kaki dan jari kaki Anda di atas tanah saat Anda berjalan
  • Kiprah halaman langkah tinggi, mengangkat paha saat berjalan, untuk mencegah jari-jari Anda menyentuh tanah
  • Ketidakmampuan untuk mengangkat kaki di pergelangan kaki
  • Mati rasa atas kaki atau jari kaki

Penyebab foot drop

Ada tiga penyebab utama yang melemahkan saraf atau otot, di antaranya:

  1. Cedera saraf. Saraf peroneal adalah saraf yang berkomunikasi dengan otot-otot yang mengangkat kaki. Kerusakan saraf peroneal adalah penyebab paling umum dari foot drop. Jadi saraf yang membungkus dari belakangan lutut ke depan tulang kering dan berada dekat dengan permukaan, sehingga mudah rusak. Kerusakan saraf peroneal dapat disebabkan oleh cedera olahraga, operasi pergantian pinggul atau lutut, gips kaki, persalinan, atau bahkan menyilangkan kaki.
  2. Gangguan otot. Kondisi yang menyebabkan otot perlahan melemah atau memburuk juga bisa menyebabkan drop foot. Gangguan ini mungkin termasuk distrofi otot, sclerosis lateral amiotrofik (penyakit Lou Gehrig, penyakit saraf yang menyerang dan menghancurkan sel-sel saraf motorik) dan polio.
  3. Gangguan otak atau tulang belakang. Kondisi neurologis juga bisa menyebabkan foot drop. Kondisi mungkin termasuk stroke, multiple sclerosis, dan cerebral palsy.

Latihan untuk mengatasi foot drop

  1. Peregangan handuk

Anda dapat melakukan hal ini dengan cara:

  • Duduk di lantai dengan kedua kaki lurus ke depan.
  • Lalu, lingkarkan handuk atau pita latihan di sekitar kaki yang sakit dan pegang kedua ujungnya dengan tangan Anda.
  • Tarik handuk atau pita latihan ke arah tubuh Anda
  • Tahan selama 30 detik.
  • Kemudian rileks selama 30 detik, dan ulangi 3 kali setiap sesinya.
  • Toe to Heel Rock

Cara melakukannya adalah dengan cara:

  • Berdirilah di depan meja, kursi, dinding, atau benda kokoh lainnya yang dapat Anda pegang sebagai penyangga.
  • Goyangkan beban Anda ke depan dan naik ke atas jari-jari Anda.
  • Tahan posisi ini selama 5 detik.
  • Selanjutnya, goyangkan beban Anda ke belakang pada tumit Anda dan angkat jari-jari Anda dari lantai.
  • Tahan selama 5 detik dan ulangi urutan tersebut beberapa kali.
  • Ambil kelereng

Lakukan latihan ini dengan cara:

  • Duduklah di kursi dengan kedua kaki rata di lantai.
  • Tempatkan 20 kelereng dan mangkuk di lantai di depan Anda.
  • Dengan menggunakan jari-jari kaki Anda yang terkena foot drop, lalu ambil setiap kelereng dan pindahkan kelereng ke dalam mangkuk.
  • Ulangi sampai Anda mengambil semua kelereng.
  • Angkat bola

Lakukan cara ini dengan cara:

  • Duduklah pada kursi dengan kedua kaki rata di lantai.
  • Letakkan benda bulat kecil (bisa bola tenis) di lantai di depan Anda.
  • Pegang benda di antara kaki Anda dan perlahan angkat dengan merentangkan kaki Anda.
  • Tahan selama 5 detik lalu turunkan perlahan.
  • Lalu ulangi latihan ini selama 10 kali setiap sesinya.
  • Dorsiflexion pergelangan kaki

Lakukan latihan ini dengan cara:

  • Duduk di lantai dengan kedua kaki lurus di depan Anda.
  • Ambil resinstance band dan angkat ke kursi atau kaki meja yang stabil.
  • Lingkarkan lingkaran pada bagian atas kaki Anda yang terkena.
  • Tarik perlahan jari-jari kaki yang menderita ke arah Anda lalu kembali ke posisi awal, lalu ulangi 10 kali.

Jadi kesimpulannya Anda dapat meminimalisir gejala yang muncul karena foot drop dengan melakukan beberapa latihan di atas. Namun, jika Anda telah melakukan latihan tersebut beberapa kali tetapi tidak ada kemajuan dan bahkan semakin memburuk, maka ada baiknya untuk mendatangi dokter untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.