Hidup Sehat

Seputar Kesehatan Pria: Gejala Level Testosterone Rendah

Testosterone adalah hormon seks yang biasanya sering dihubungkan dengan pria, padahal wanita juga memiliki hormon ini meskipun dalam jumlah yang sedikit. Apabila seorang pria memiliki level testosterone yang rendah, ini akan memengaruhi kesehatan pria, terutama yang berhubungan dengan fungsi seksual. Ia akan menunjukkan beberapa gejala seperti disfungsi ereksi, berkurangnya masa tulang dan nafsu birahi. Hormon testosterone memiliki banyak fungsi, yaitu untuk perkembangan tulang dan otot, pertumbuhan rambut dan faktor lain yang berhubungan dengan tampilan fisik (termasuk pendalaman suara), hingga produksi sperma. 

Produksi testosterone dapat menjadi lambat saat seseorang bertambah usia, dan banyak orang yang lebih tua memiliki gejala testosterone rendah. Asosiasi Urologi Amerika menetapkan testosterone rendah berada pada angka di bawah 300 ng hormon per decilitre darah. Mereka juga melaporkan bahwa 2 dari 100 orang pria memiliki hormon testosterone yang rendah. Kesehatan pria dengan level testosterone rendah tentunya mengkhawatirkan. Untuk itu, waspadai beberapa gejala dan tanda-tanda testosterone rendah berikut ini:

Testosterone yang rendah akan membuat seorang pria kesulitan ereksi dan menjaga ereksi tersebut. Testosterone menstimulasi jaringan penis untuk memproduksi oksida nitrat, yang akan memulai beberapa reaksi penyebab ereksi. Apabila level hormon testosterone terlalu rendah, seorang pria akan kesulitan mendapatkan ereksi. Faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab disfungsi ereksi di antaranya adalah merokok, gangguan yang berhubungan dengan tiroid, kolesterol tinggi, stres atau kecemasan, konsumsi alkohol, diabetes, dan tekanan darah tinggi. 

Banyak pria mengalami kerontokan rambut sebagai bagian alami penuaan, dan kerontokan rambut akibat penuaan juga dapat memengaruhi wanita. Sebuah studi pada tahun 2012 menemukan bahwa implant testosterone dapat mendukung pertumbuhan rambut kembali pada wanita yang mendapatkan perawatan gejala defisiensi hormon seks. 

Testosterone membantu memproduksi jaringan tulang dan menjaga volume tulang. Testosterone yang rendah dapat menyebabkan berkurangnya volume tersebut, yang dapat membuat tulang menjadi lebih rentan retak atau patah. 

Seorang pria dengan hormon testosterone yang rendah juga akan menyadari adanya pengurangan ukuran buah zakar mereka, yang tidak berhubungan dengan udara dingin. Skrotum juga akan terasa lebih pendek dari biasanya. 

Air mani merupakan cairan yang keluar saat pria ejakulasi. Cairan ini membantu sperma bergerak menuju sel telur. Testosterone dapat membantu menstimulasi produksi air mani, dan berkurangnya air mani dapat mengindikasikan adanya pengurangan testosterone. Hal ini juga dapat menyebabkan gangguan kesuburan. 

Pria dengan kadar testosterone yang rendah juga akan kesulitan tertidur. Banyak pria dengan level hormon terstosterone rendah juga menderita apnea tidur, yang mana merupakan gangguan tidur parah di mana seseorang berhenti bernapas sementara, yang dapat mengganggu tidur mereka. 

Testosterone memainkan peran penting dalam perkembangan masa otot, dan berkurangnya level hormon tersebut dapat menyebabkan pengurangan masa otot yang signifikan. Akan tetapi, meskipun testosterone rendah mengurangi masa otot, fungsi dan kekuatan otot tidak akan hilang, menurut sebuah temuan dari tinjauan studi tahun 2016. 

Untuk menjaga kesehatan pria, terutama dengan fungsi seksualnya, mereka yang mengalami satu atau lebih dari gejala yang disebutkan di atas perlu mendapatkan perawatan medis secepatnya. Untuk mendiagnosa testosterone rendah, dokter akan melakukan evaluasi fisik dan meninjau gejala yang dirasakan pasien. Dokter juga bisa melakukan tes untuk mencari gejala tambahan, seperti tes kepadatan tulang dapat menunjukkan hilangnya masa tulang, yang mana merupakan hasil dari rendahnya testosterone.