Uncategorized

Swab Test adalah Cara Jitu Deteksi Virus Korona

Metode swab test adalah salah satu pemeriksaan jitu yang berguna untuk mendeteksi virus penyebab penyakit. Salah satunya virus korona atau Covid-19. Swab test makin dikenal khalayak lantaran pandemi Covid-19 yang melanda dunia makin marak pada awal 2020 lalu. 

Kini, sudah banyak rumah sakit, klinik, hingga tenaga medis yang sudah memberikan pelayanan swab test. Baik secara umum maupun mandiri. Fungsi utamanya, tentu untuk mendeteksi keberadaan virus korona.

Lebih lanjut, Anda perlu menyimak berbagai ulasan mengenai swab test hingga prosedur pelaksanaannya. 

Apa itu swab test? 

Metode swab test adalah metode pemeriksaan atau tes usap untuk menegakkan diagnosis virus korona atau Covid-19. Swab test merupakan cara untuk memperoleh bahan pemeriksaan atau yang kerap disebut dengan sampel. Sampel yang diambil itu tentu harus disesuaikan dengan jenis penyakit yang ingin didiagnosis sehingga tidak asal-asalan. 

Pada pelaksanaannya, swab test dilakukan pada nasofaring dan atau orofarings. Prosesnya,  sampel itu didapatkan dengan cara mengusap rongga nasofarings maupun orofarings dengan menggunakan alat tertentu. Alat yang dimaksud ialah seperti kapas lidi khusus yang dilakukan tenaga medis. 

Swab test atau PCR test atau polymerase chain reaction yang merupakan metode pemeriksaan Covid-19 atau virus SARS Co-2 dengan mendeteksi DNA virus. Dari pemeriksaan yang dilakukan tersebut, umumnya hasil yang didapat ialah positif dan negatif Covid-19. 

Lebih lanjut, pemeriksaan yang dilakukan menggunakan sampel lendir yang ada di dalam hidung dan tenggorokan. Selain itu, sampel yang dibutuhkan bisa berupa sampel darah, urine, sputum, hingga cairan serebrospinal (CSF). 

Hasil swab test atau PCR test tersebut juga diakui lebih akurat jika dibandingkan dengan tes lainnya. Bahkan, kini banyak rumah sakit hingga fasilitas kesehatan berskala kecil lainnya yang sudah melengkapi pelayanannya berupa swab test sebagai metode pengecekan virus secara berkala. 

Prosedur serta alat uji yang digunakan untuk Swab Test 

Pada umumnya, metode PCR swab test adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan menggunakan sampel lendir yang ada di dalam hidung dan tenggorokan. Berikut ini prosedur pemeriksaannya. 

– Biasanya, alat uji yang digunakan untuk melakukan swab test adalah sejenis cotton bud yang akan dimasukkan ke dalam lubang hidung Anda. 

– Sebelum pelaksanaannya, tenaga medis akan meminta Anda untuk mendongakkan kepala atau kepala yang menghadap ke atas untuk mempermudah pengambilan sampel.

– Setelah itu, dokter maupun tenaga medis akan memutar-mutar secara perlahan alat tersebut sekitar 10 hingga 15 detik agar lendir yang ada dalam hidung Anda menempel di alat itu. 

– Setelah mendapatkan lendir atau sampel yang dibutuhkan, alat tersebut akan segera dikeluarkan dan langsung dimasukkan dalam plastik ataupun tabung plastik yang steril. 

– Selanjutnya, tabung itu akan ditutup secara rapat, lalu dibawa ke laboratorium untuk pengecekan hasilnya. 

Untuk hasilnya, swab test dinyatakan positif apabila DNA maupun RNA dari lendir hidung cocok dengan replika DNA dari virus korona. Begitu juga sebaliknya apabila hasilnya negatif.

Siapa yang harus melakukan swab test? 

Ada banyak kriteria serta beberapa hak yang perlu diperhatikan untuk melakukan swab test. Berikut ini kelompok atau orang yang diharuskan melakukan swab test tersebut. 

  • Orang-orang yang memiliki gejala virus korona. 
  • Orang yang telah melakukan kontak sangat dekat dengan seseorang yang terjangkit virus korona  harus diuji untuk memeriksa infeksi. 
  • Orang yang divaksinasi lengkap haruslah diuji selama 5 hingga 7 hari setelah paparan terakhir mereka. 
  • Orang yang tidak divaksinasi sepenuhnya harus segera dites saat mereka mengetahui bahwa mereka kontak dekat dengan orang yang terinfeksi virus. Apabila hasil tes mereka negatif, mereka harus diuji lagi selama 5 hingga 7 hari setelah paparan terakhir mereka atau sesegera mungkin saat mengetahui gejalanya berkembang. 
  • Orang yang tidak divaksinasi yang telah mengambil bagian dalam kegiatan karena mereka tidak dapat secara fisik menjaga jarak yang diperlukan untuk menghindari paparan. Di antaranya, bepergian, menghadiri pertemuan sosial yang besar, hingga berada di lingkungan dalam ruangan yang ramai. 
  • Orang yang telah diminta untuk diuji oleh penyedia layanan kesehatan.

Kementerian Kesehatan hingga CDC juga merekomendasikan agar siapa pun yang memiliki tanda atau gejala Covid-19 melakukan tes, terlepas dari status vaksinasi atau infeksi sebelumnya.  

Lebih lanjut, apabila Anda dites karena Anda memiliki gejala atau berpotensi terkena virus, Anda harus menjauh dari orang lain sambil menunggu hasil tes dan mengikuti saran dari penyedia layanan kesehatan Anda.