Kesehatan Mental

Bolehkah Seseorang Punya Sikap Perfeksionis?

The Perfectionist's Survival Guide to Writing | The Draft

Banyak orang ingin memberikan hasil terbaik dalam setiap hal yang dilakukannya. Hal itu sebenarnya baik, tetapi di satu sisi, perilaku itu bisa berbalik menjadi sesuatu yang buruk. Kita mengenal perilaku ingin semuanya terlihat sempurna sebagai perfeksionis. Jika demikian, sebenarnya boleh atau tidak, sih, seseorang menjadi perfeksionis?

Sebenarnya, boleh dan tidak dalam kasus ini amat relatif. Semuanya tergantung kondisi dan situasi yang tengah terjadi. Di satu sisi menjadi perfeksionis itu merupakan sesuatu yang baik karena dapat menghasilkan kualitas tugas yang sempurna. 

Akan tetapi, individu yang perfeksionis seringkali mengalami berbagai permasalahan secara psikologis. Misalnya, ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap pasangan untuk menjadi sempurna, terkadang membuat pasangan merasa tertekan, sedangkan dirinya seringkali merasa kecewa dan marah. 

Begitu juga dalam lingkungan pertemanan, orang yang perfeksionis cenderung terlihat kaku. Pasalnya, itu semua didorong oleh kebutuhan untuk selalu terlihat sempurna berdasarkan versinya.  

Orang yang perfeksionis juga seringkali menyebabkan mereka merasa cemas dan lelah sepanjang waktu karena selalu merasa bahwa sesuatunya belum terlihat sempurna di matanya. Jika mereka tidak berhasil mencapai standar diri yang tinggi atau sempurna tersebut, maka mereka akan menjadi kecewa terhadap diri sendiri.

Ternyata, terdapat hubungan antara perfeksionis dan masalah kesehatan mental, yaitu depresi dan gangguan makan seperti anoreksia nervosa dan bulimia. Lantas, sebenarnya sikap perfeksionis itu baik atau buruk, ya?

Untuk menjawab pertanyaan itu, di bawah ini ada beberapa bahan pertimbangan yang dapat dijadikan dasar mengambil kesimpulan mengenai sikap perfeksionis:

  • Memiliki standar dan kualitas yang tinggi, sehingga si perfeksionis bakal kerja dua kali lebih banyak

Sudah menjadi rahasia umum jika seorang perfeksionis mempunyai standar dan kualitas yang tinggi dalam segala hal. Mereka tidak akan merasa puas dengan melakukan suatu yal yang biasa saja atau belum memenuhi standar minimum versinya. Oleh karena itu mereka akan melakukan pekerjaan sebanyak yang diperlukan untuk menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

  • Sangat teliti, tetapi membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaan

Karena mengharapkan sesuatu yang sempurna, maka seseorang yang perfeksionis sangat teliti dalam melakukan pekerjaannya dan tidak mengabaikan sesuatu hal yang kecil. Namun, karena ketelitian tersebut, ia akan sangat lama menyelesaikan pekerjaannya. Atau dalam kata lain orang perfeksionis mempunyai tingkat produktivitas yang rendah.

  • Selalu ingin memberikan citra yang baik, tetapi cenderung mengerjakan sesuatu yang tidak perlu

Perfeksionis tidak ingin terlihat jelek di mata orang lain, oleh karena itu ia akan melakukan segala cara dan upaya untuk memberikan citra yang baik untuk dirinya dan karya yang dibuatnya. Namun karena upayanya untuk memberikan citra yang positif, ia cenderung mengerjakan sesuatu yang tidak perlu.

Misalnya seorang desainer perfeksionis akan fokus pada pembuatan sebuah pola yang terlalu detail, yang klien atau rekan kerjanya tidak akan menyadari atau bisa jadi tidak peduli dan tidak memerlukan itu.

  • Ingin semua hal berjalan dengan lancar dan baik, tetapi di sisi lain mudah depresi dan frustasi

Menginginkan hasil yang sempurna dan berjalan dengan baik, seorang perfeksionis akan bekerja lebih keras dan lebih panjang dibanding orang lain. Hal ini akan membuatnya lebih lelah dan mudah frustasi ketika hasil yang dihasilkan tidak mencapai tujuan yang diharapkan.

  • Menjadi pribadi yang kritis dengan memikirkan segala hal, tapi cenderung membuang waktu

Perfeksionis akan memikirkan segala sesuatu dari hulu ke hilir. Ia adalah orang yang kritis dan akan memikirkan semuanya matang-matang karena ia membenci hal yang tidak berjalan dengan baik. Menjadi pemikir yang kritis itu perlu, tetapi untuk beberapa situasi dan kebutuhan yang mendesak, perfeksionis akan cenderung membuang waktu.

***

Nah, itulah beberapa gambaran mengenai sikap perfeksionis. Baik dan buruk mengenai sikap ini bisa Anda tentukan sendiri. Jika Anda merupakan orang yang perfeksionis, bisa juga hal-hal di atas dijadikan sebagai bahan refleksi agar kehidupan Anda menjadi lebih baik lagi ke depannya.