Hidup Sehat

Yuk Cari Tahu, Inilah 4 Pentingnya Diet Perimenopause!

Sebelum memasuki puncak menopasue, perempuan akan melalui fase perimenopause yang terjadi selama bertahun-tahun sebelum menstruasi berhenti. Perubahan-perubahan akan muncul selama fase ini, seperti menstruasi tidak teratur, gangguan tidur, hot flashes, mood swing, kesuburan berkurang, masalah di area vagina dan kandung kemih, penurunan fungsi seksual, kehilangan massa tulang, dan kadar kolesterol yang berfluktuasi. Pemenuhan zat gizi penting selama diet perimenopause akan membantu perempuan mengendalikan gejala-gejala ini.

Gejala atau perubahan alami pada fase perimenopasue.

Seiring bertambahnya usia, produksi hormon estrogen pada perempuan pada akan menurun. Hormon ini disekresikan oleh ovarium (indung telur) dan kelenjar adrenal (organ kecil di atas ginjal). Ovarium adalah sekresi hormon estrogen terbesar di tubuh. Ketika fungsi organ ini berhenti, maka hormon estrogen di dalam tubuh menurun drastis. Saat kadar hormon ini menurun di dalam tubuh, maka akan muncul gejala seperti berikut.

  1. Siklus menstruasi tidak teratur.
  2. Vagina terasa kering.
  3. Risiko tinggi mengalami osteoporosis.
  4. Perubahan suasan hati (mood swing).
  5. Mudah mengalami stres dan depresi.
  6. Hot flashes, yaitu berkeringat pada malam hari.
  7. Gairah seksual berkurang bahkan hilang.
  8. Rendahnya peluang hamil.
  9. Kulit jadi lebih kering.
  10. Risiko tinggi mengalami penyakit kardiovaskuler, seperti hipertensi, jantung, dan stroke.

Sebagian besar, perempuan mulai mengalami gejala perimenopause saat memasuki usia 40 tahun dan puncak menopause terjadi saat usia 50 tahun. Dikutip dari Healthline, seorang perempuan dikatakan telah memasuki masa menopause apabila dalam waktu 12 bulan tidak mengalami haid atau menstruasi.

Lalu, seberapa penting diet perimenopause selama fase ini?

Diet perimenopause bertujuan meminimalisir dan mengendalikan gejala-gejala yang muncul menjelang periode menopause tiba. Diet ini penting dalam menjaga kesehatan tubuh, baik itu secara fisik maupun psikis selama fase perimenopause.

  • Mencegah osteoporosis.

Saat memasuki fase perimenopause, perempuan berisiko tinggi mengalami osteoporosis. Hal ini karena menurunnya penyerapan kalsium akibat rendahnya kadar esterogen. Jika asupan zat gizi kalsium, fosfor, dan vitamin D terpenuhi, maka kepadatan tulang dapat terjaga. Kekurangan zat gizi tersebut dapat membuat tulang menjadi rapuh atau lunak (osteomalacia), sehingga risiko patah tulang jadi meningkat.

  • Meredakan gejala hot flashes.

Gejala hot flashes atau berkeringat di malam hari terjadi karena perubahan hormonal dalam tubuh. Gejala ini dapat dikontrol dengan membatasi asupan makanan yang memicu hot flashes semakin parah, yaitu alkohol, kafein, dan gula yang tinggi dalam makanan atau minuman.  Selain itu, diet perimenopause rendah lemak, latihan aerobik secara teratur, berjalan kaki, dan aktivitas fisik lainnya dapat meringankan gejala hot flashes.

  • Mengatasi vagina kering.

Vagina menjadi kering karena rendahnya sekresi estrogen dari ovarium. Meskipun begitu, kelenjar adrenalin dan jaringan lemak masih mensekresikan hormon tersebut.  Masalah ini dapat diatasi dengan mengonsumsi makanan yang mengandung fitoestrogen, seperti tahu, tempe, dan olahan kedelai lainnya. Selain itu, konsumsi makanan kaya omega-3 dan minyak esensial dapat mengurangi kejadian iritasi akibat vagina kering. Anda bisa mendapatkannya dari ikan tuna, salmon, cod, dan ikan sejenis lainnya.

  • Mengendalikan suasana hati.

Suasana hati yang berantakan dapat disebabkan karena perubahan hormonal tubuh. Perempuan dalam fase perimenopasue cenderung lebih mudah gelisah, gugup, tertekan, hingga depresi. Mulailah atur pola makan Anda dan olahraga secara teratur untuk membantu menyeimbangkan hormonal tubuh dan mengurangi gejala fisik yang dapat memperburuk suasana hati.

Perimenopause dan menopause adalah proses penuaan alami pada tubuh yang normal terjadi. Menerapkan diet perimenopause akan membantu Anda untuk melalui fase ini dengan nyaman. Selain itu, kombinasikan juga dengan olahraga secara teratur dan menerapkan gaya hidup sehat untuk mengurangi gejala dan mencegah risiko penyakit terkait menopause.